BRIEF.ID – Kementerian Perindustrian menyatakan sektor industri manufaktur tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih penuh tekanan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan nonmigas pada triwulan III 2025 tumbuh 5,58% secara tahunan, angka itu lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04%. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) juga mencapai 17,39%, terbesar dibanding sektor lainnya.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan capaian tersebut menunjukkan daya tahan sekaligus daya saing industri nasional yang terus menguat.
“Pertumbuhan sektor manufaktur kembali lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini mencerminkan daya saing manufaktur nasional yang semakin kuat, baik di pasar domestik maupun ekspor,” tuturnya di Jakarta, Rabu (6/5).
Menurut Agus, di tengah perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik, struktur industri manufaktur Indonesia masih sangat bergantung pada pasar domestik. Sekitar 80% output industri diserap di dalam negeri, sementara hanya 20% yang diekspor.
Meski demikian, kata Agus, secara agregat sektor manufaktur tetap mendominasi ekspor nasional dengan kontribusi sekitar 75%–80% dari total ekspor Indonesia.
Agus menilai bahwa kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Di satu sisi, kuatnya pasar domestik menjaga stabilitas industri. Namun di sisi lain, pemerintah menilai perlu ada dorongan lebih agresif agar industri nasional bisa memperluas pasar global.
“Ke depan, kita perlu meningkatkan ekspor produk-produk manufaktur tanpa mengurangi kekuatan pasar domestik,” kata Agus.
Data Kemenperin menunjukkan nilai ekspor manufaktur pada periode Januari–Agustus 2025 mencapai sekitar US$147,95 miliar atau hampir 80% dari total ekspor nasional.
Selain ekspor, investasi juga menjadi penopang utama. Sepanjang 2025, kontribusi investasi sektor manufaktur mencapai sekitar 39% dari total investasi nasional, sekaligus menyerap jutaan tenaga kerja.
Agus menegaskan, pemerintah akan terus memperkuat berbagai kebijakan untuk menjaga momentum tersebut, mulai dari perlindungan pasar domestik, peningkatan utilisasi industri, hingga penguatan teknologi produksi.
“Langkah-langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global sekaligus memperkuat pasar dalam negeri,” ujarnya.
Secara global, posisi manufaktur Indonesia juga menunjukkan peningkatan. Nilai Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia pada 2024 mencapai lebih dari US$265 miliar, menempatkan Indonesia di peringkat ke-13 dunia dan tertinggi di ASEAN.
Kendati demikian, Agus mengakui masih ada sejumlah pekerjaan rumah, terutama dalam peningkatan ekspor, adopsi teknologi, serta efisiensi logistik dan infrastruktur industri.
Agus pun memastikan bahwa Kemenperin bakal mendorong transformasi industri melalui hilirisasi, digitalisasi, serta penguatan ekosistem industri berbasis inovasi agar mampu bersaing di pasar global.
“Manufaktur tetap menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional,” tuturnya. (AYB)


