LPEM FEB UI Prediksi RDG-BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 5,75%

BRIEF.ID – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (LPEM FEB) Universitas Indonesia (UI) memprediksi Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75%. Hal itu, disebabkan kenaikan inflasi Indonesia per Juni 2026 lebih didorong oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), bukan tekanan yang bersifat menyeluruh.

Dalam laporan LPEM FEB UI terbaru, dijelaskan, tekanan inflasi memang meningkat pada Juni 2026, ketika inflasi umum naik menjadi 3,34% (y.o.y.) dari 3,08% pada Mei 2026 dan semakin mendekati batas atas kisaran target BI.

“Meski demikian, kenaikan tersebut terutama terkonsentrasi pada harga bahan bakar nonsubsidi dan tarif angkutan udara, bukan mencerminkan tekanan permintaan yang meluas,” bunyi laporan LPEM FEB UI, seperti dikutip di Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Kondisi eksternal juga melemah dengan neraca perdagangan mencatat defisit sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026, defisit pertama setelah 72 bulan berturut-turut mencatat surplus, seiring pertumbuhan impor yang terus melampaui ekspor. Selain itu, nilai tukar rupiah masih melemah meskipun terjadi arus masuk modal asing (capital inflow) ke obligasi pemerintah atau Surat Utang Negara (SUN).

Tercatat capital inflow pada portofolio SUN mencapai US$0,70 miliar antara pertengahan Juni 2026 dan pertengahan Juli 2026, namun rupiah melemah menjadi Rp18.060 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 15 Juli 2026.Dengan demikian, rupiah mengalami depresiasi sebesar 2,09% secara bulanan atau month-to-month (mtm), dan penurunan sebesar 7,29% sepanjang tahun ini atau year-to-date (ytd).

“Ini menunjukkan bahwa capital inflow ke obligasi tidak cukup untuk mengimbangi permintaan valuta asing yang lebih kuat akibat pembayaran dividen musiman dan pembayaran utang luar negeri,” sebut LPEM FEB UI.

Terkait dengan itu, LPEM FEB UI memperkirakan BI akan memberlakukan pengetatan kebijakan moneter, dan kemungkinan mengurangi dukungan terkait intervensi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.

“Mengingat tekanan inflasi sebagian besar masih didorong oleh sisi penawaran, dan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut akan memberikan dukungan yang semakin berkurang terhadap Rupiah sekaligus membebani aktivitas domestik, kami memperkirakan BI akan mempertahankan BI-Rate pada level 5,75%,” ungkap LPEM FEB UI.

Lembaga tersebut juga mencatat rupiah merupakan salah satu mata uang pasar negara berkembang (emerging market) dengan kinerja terlemah pada tahun 2026, meskipun Bank Indonesia telah menerapkan kebijakan pengetatan moneter dan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar.

Per pertengahan Juli 2026, Rupiah terdepresiasi sebesar 7,29% (ytd), kinerjanya hanya lebih baik daripada Lira Turki yang melemah sebesar 9,74% (ytd), sementara beberapa mata
uang asia hanya mencatat depresiasi yang lebih kecil, bahkan menguat selama periode tersebut.

Meskipun Rupiah terus mengalami tekanan, cadangan devisa Indonesia meningkat dari USD144,9 miliar pada Mei 2026 menjadi USD145,6 miliar pada Juni 2026, menandai kenaikan bulanan pertama sejak Januari 2026.

Kenaikan ini didukung oleh penerimaan pajak dan jasa pemerintah yang lebih dari cukup untuk mengimbangi pembayaran utang luar negeri dan intervensi valuta asing Bank Indonesia untuk menstabilkan Rupiah.

Posisi cadangan devisa setara dengan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“Cadangan devisa yang memadai ini diharapkan memberikan ruang kebijakan yang cukup bagi Bank Indonesia untuk terus memitigasi volatilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian keuangan global yang meningkat,” tutur LPEM FEB UI.

Tekanan Inflasi

Ke depan, tekanan inflasi pada Juli 2026 diperkirakan akan tetap tinggi seiring berlanjutnya pass-through kenaikan biaya transportasi dan energi ditambah kenaikan
musiman belanja terkait pendidikan seiring dimulainya tahun ajaran baru.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan curah hujan di bawah normal di sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, dan Kalimantan
sepanjang Juli dan Agustus yang berpotensi menambah tekanan pada harga beras dan komoditas hortikultura.

Sejalan dengan hal tersebut, Indeks Ekspektasi Harga dari Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia turut mengindikasikan penguatan ekspektasi inflasi jangka pendek, meningkat dari 175,8 pada Juli 2026 menjadi 178,0 pada Agustus 2026.

Terkait dengan itu, inflasi diperkirakan akan tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia, meskipun risiko kenaikan meningkat menyusul ketegangan geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah yang berpotensi menaikkan harga energi global dan berkontribusi terhadap inflasi impor.

“Meski demikian, tekanan inflasi ini sebagian besar didorong oleh sisi penawaran dan oleh karena itu kemungkinan besar tidak dapat diatasi secara efektif hanya melalui pengetatan moneter tambahan saja,” sebut LPEM FEB UI.

Dijelaskan, sejak Mei 2026, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga kebijakannya secara kumulatif sebesar 100 bps untuk memperkuat stabilitas Rupiah dan meningkatkan daya tarik aset keuangan yang denominasi Rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastianglobal.

Terus melemahnya Rupiah, meskipun suku bunga lebih tinggi dan adanya intervensi valuta asing, menunjukkan bahwa langkah-langkah moneter mungkin telah menahan volatilitas tetapi belum membalikkan tekanan mendasar.

Permintaan dolar dari investor gloal, kebutuhan valuta asing perusahaan, serta kekhawatiran terkait komitmen fiskal dan kebutuhan pembiayaan telah sebagian mengimbangi manfaat dari selisih suku bunga yang lebih lebar.

“Oleh karena itu, pengetatan moneter lebih lanjut mungkin hanya memberikan dukungan tambahan yang terbatas bagi Rupiah, sementara membebankan biaya yang lebih besar pada kredit domestik, investasi, dan aktivitas ekonomi,” demikian laporan LPEM FEB UI. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Yen Sentuh Titik Terendah dalam 40 Tahun

BRIEF.ID - Pemerintah Jepang kembali meningkatkan kewaspadaan terhadap pelemahan...

Rupiah Kembali Loyo di Level Rp17.900 Dipicu Defisit APBN dan Lonjakan Harga Minyak Dunia

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah kembali loyo ke...

LHKPN Nanik S Deyang Jadi Sorotan Usai Mundur dari Kepala BGN, Ini Rincian Harta Kekayaannya

BRIEF.ID – Pengunduran diri Nanik Sudaryati Deyang dari jabatan...

Ekspor Jepang Melonjak, Pelemahan Yen dan Permintaan AI Jadi Penopang

BRIEF.ID – Kinerja ekspor Jepang mencatat pertumbuhan yang kuat...