BRIEF.ID – Meskipun banyak negara peserta Piala Dunia FIFA 2026 dilanda perpecahan sosial, beberapa tim menawarkan contoh sangat positif tentang bagaimana pemain dari berbagai latar belakang dan keyakinan agama dapat bekerja sama erat untuk mengejar tujuan bersama.
Fenomena ini sangat menonjol di antara tim-tim Eropa Barat, yang dalam sejarah sepak bola didominasi oleh pemain kulit putih dan beragama Kristen. Seiring semakin beragamnya masyarakat, demikian pula susunan pemain tim nasional yang menampilkan pemain Kristen dan Muslim.
Skuad nasional Inggris, untuk pertama kali menyertakan pemain Muslim. Skuad Prancis memiliki beberapa pemain dari latar belakang Protestan, Katolik, dan Muslim. Bintang muda Spanyol yang sedang naik daun, Lamine Yamal yang berusia 18 tahun, adalah seorang Muslim yang taat.
Begitu pula Yasin Ayari dari Swedia, yang bersujud di lapangan untuk berterima kasih kepada Tuhan setelah gol pertama dari dua gol yang dicetaknya dalam kemenangan hari Minggu (14/6/2026) atas Tunisia, tanah kelahiran ayahnya.
Keempat negara itu — seperti beberapa negara lain di Eropa — telah mengalami polarisasi politik terkait kedatangan sejumlah besar imigran Muslim. Apakah keberagaman tim Piala Dunia mengirimkan pesan yang bermanfaat?
“Tentu saja. Ini simbolis namun substantif,” kata Eboo Patel, presiden Interfaith America yang mendukung pluralisme dan kerja sama antar agama.
Ia mencontohkan para pemain Kristen yang membuat tanda salib, dan para pemain Muslim yang menangkupkan tangan dalam doa. Pesan mereka, kata Patel, adalah, “Identitas saya sangat penting bagi saya dan itu membuat saya menjadi pemain sepak bola yang lebih baik.”
“Mereka mencetak gol, mereka masing-masing mengucapkan doa mereka, dan kemudian mereka saling berpelukan,” tambah Patel. “Anda bekerja sama untuk membangun komunitas dan tim. … Ini bukan iklan televisi yang dibuat-buat atau acara khusus setelah sekolah yang merendahkan. Ini adalah cara Anda membangun tim sepak bola yang hebat,” tambah dia.
Marc Guéhi yang memperkuat Timnas Inggris adalah putra seorang pendeta Kristen di London. Guéhi, 25 tahun, menjalani musim pertamanya bersama Manchester City dan terpilih sebagai salah satu bek Inggris untuk Piala Dunia.
Saat menjadi kapten di klub sebelumnya, Crystal Palace, Guéhi menentang aturan Asosiasi Sepak Bola dengan menulis pesan-pesan keagamaan di seragamnya selama kampanye Liga Premier.
Mohamed Salah, yang paling terkenal di antara para pemain Mesir, adalah seorang Muslim Sunni yang menjalankan keyakinannya secara terbuka, baik di dalam maupun di luar lapangan. Setelah mencetak gol, ia sering bersujud untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan. Dampak positifnya sangat nyata: Setelah ia bergabung dengan Liverpool di Liga Primer, para peneliti melaporkan bahwa cuitan anti-Muslim oleh para penggemar menurun setengahnya.
Lamine Yamal yang memperkuat Timnas Spanyol adalah seorang Muslim, ayahnya berasal dari Maroko. Yamal menarik perhatian dunia ketika ia mengibarkan bendera Palestina selama perayaan kemenangan Barcelona di liga Spanyol pada Mei 2026. (Associated Press/nov)


