Kepercayaan Investor Menurun, IHSG dan Rupiah Kompak Terjun Bebas

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (19/5/2026) turun 228,56 poin atau sebesar 3,46% ke level 6.370,68.

Spekulasi bahwa pemerintah akan memusatkan ekspor komoditas untuk mengendalikan arus modal dan menopang nilai tukar Rupiah yang terus merosot mendorong pelemahan pasar keuangan Indonesia.  

Sepanjang tahun ini, IHSG tergerus  lebih dari 26% sehingga menjadikan bursa saham Indonesia sebagai pasar saham dengan kinerja terburuk di dunia. Saham sektor energi dan bahan baku memimpin pelemahan.

Rupiah juga melemah 0,4% terhadap Dolar AS ke rekor terendah baru, sementara harga kontrak CPO di Malaysia berbalik melonjak 1,8% setelah  sempat melemah.

Dikutip dari D’ Origin Interactive News, pelaku pasar mengaitkan tekanan tersebut dengan spekulasi pembentukan badan khusus untuk ekspor komoditas strategis seperti batu bara, CPO, dan mineral. Kehadiran lembaga itu memunculkan kekhawatiran meningkatnya kontrol negara terhadap industri strategis.

Sebaliknya, rencana pembentukan lembaga ini dinilai berpotensi membantu memperkuat keuangan pemerintah di tengah pelebaran defisit fiskal. Kekhawatiran semakin besar mengingat peran dominasi sektor komoditas dalam perekonomian Indonesia. Indonesia merupakan eksportir utama komoditas dan produsen minyak sawit terbesar dunia, sehingga perubahan aliran ekspor dapat memengaruhi stabilitas rupiah maupun cadangan devisa.

Partner di Mitra SGMC Capital, Mohit Mirpuri mengatakan pasar bereaksi negatif karena investor khawatir kebijakan tersebut akan menambah lapisan kontrol negara dan meningkatkan ketidakpastian kebijakan bagi eksportir komoditas.

“Menurut saya arah kebijakannya sudah jelas: pemerintah melakukan segala cara untuk mempertahankan rupiah dan memastikan devisa hasil ekspor tetap berada di dalam negeri,” ujarnya kepada Bloomberg.

Penurunan pasar saham mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap otoritas Indonesia untuk menstabilkan pasar di tengah risiko tingginya harga minyak. Rupiah sudah tergerus hampir 6% sepanjang tahun ini.

Sentimen investor juga tercemar oleh kemungkinan keputusan mendatang dari MSCI Inc terkait potensi penurunan status pasar saham Indonesia menjadi frontier market, setelah beberapa perusahaan besar dikeluarkan dari indeksnya baru-baru ini. Sebelumnya, Fitch Ratings dan Moody’s Ratings juga telah menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia akibat kekhawatiran terhadap risiko fiskal dan ketidakpastian kebijakan.

Kepala saham Asia Pasifik Aberdeen Investments Pruksa Iamthongthong mengatakan, meningkatnya risiko membuat investor perlu lebih berhati-hati terhadap saham Indonesia meskipun valuasinya sudah murah.

“Kami melihat tekanan pada Rupiah, menurunnya kepercayaan terhadap ekonomi, dan pemerintah juga harus mengelola defisit transaksi berjalan. Jadi ada cukup banyak tantangan,” ujarnya kepada Bloomberg TV.

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Rupiah Melemah, Misbakhun Imbau Masyarakat Tetap Tenang

BRIEF.ID –  Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun...

Harga Minyak Mentah Turun Menjadi US$ 110,61 per Barel

BRIEF.ID – Harga minyak mentah turun pada Selasa (19/5/2026) ...

Setelah Trump, Kini Giliran Putin Kunjungi Tiongkok

BRIEF.ID – Kurang dari sepekan setelah kunjungan Presiden Amerika...

Rupiah Ambruk ke Level Rp17.700 per Dolar AS, Investor Ragukan Kebijakan Makroekonomi Indonesia

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah ambruk ke level...