BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah ambruk ke level Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026), dipicu faktor domestik kebijakan makroekonomi Indonesia yang diragukan investor.
Pada awal perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,10% atau 17 poin menjadi Rp17.685 dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.668 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terus berlanjut dipicu arus modal keluar (capital outflow), hingga terpantau menyentuh level Rp17.729 per dolar AS saatpenutupan sesi I perdagangan, tepatnya pada pukul 12:00 WIB.
Pelemahan rupiah hari ini terjadi di saat pasar keuangan dan komoditas global berada di zona hijau seiring pengumuman Presiden AS, Donald Trump, yang membatalkan rencana serangan ke Iran.
Hal itu, membuat harga minyak dunia merosot, sehingga tekanan dolar AS terhadap mata uang global mereda. Pada sesi pagi perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026), harga minyak dunia jenis Brent terpangkas 0,15% ke level US$109,1 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,27% ke level US$ 107,28 per barel.
Tekanan terhadap rupiah terutama dipengaruhi capital outflow di pasar Surat Utang Negara (SUN), seiring aksi jual yang terus dilakukan investor, karena khawatir dengan stabilitas makroekonomi Indonesia.
Pelaku pasaar khawatir dengan kredibilitas jangkar kebijakan makroekonimi Indonesia, terutama terkait penyesuaian yang jelas terhadap harga energi, arah subsidi, dan kalibrasi fiskal.
Hingga saat ini, pemerintah belum secara lugas mengumumkan penyeseuaian atau kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), sementara subsidi energi telah melampaui patokan di APBN.
Selain itu, arah subsidi yang akan dilakukan pemerintah imbas lonjakan harga minyak juga tak jelas, dan penerimaan negara juga masih bertumpu pada pinjaman luar negeri yang semakin tinggi risiko dengan tren penguatan dolar AS.
Hal inilah yang membuat tekanan lebih terarah kepada nilai tukar rupiah, sehingga Bank Indonesia (BI), yang harus memainkan kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dikhawatirkan pelemahan rupiah yang terus terjadi, bahkan di saat sentimen global mereda, akan menimbulkan kepanikan, yang memunculkan fenomena Dornbusch overshooting yang semakin agresif.
Fenomena Dornbusch overshooting adalah pelemahan nilai tukar yang bergerak jauh melampaui level fundamentalnya akibat kepanikan pasar dan ekspektasi yang tidak terkendali. (jea)


