BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (19/5/2026) diperkirakan rawan melanjutkan koreksi. Kerawanan ini disebut-sebut karena dibayang-bayangi pelemahan nilai tukar Rupiah.
Riset Phintraco Sekuritas menyebutkan, IHSG akan bergerak pada resistance 6.700, pivot 6.600, dan support 6.400. Saham-saham yang direkomendasikan, di antaranya MEDC, ELSA, PGAS, TLKM, dan BBCA.
IHSG ditutup melemah di level 6,599.24 (-1.85%) pada perdagangan Senin (18/5). Melemahnya mayoritas indeks di bursa global dan berlanjutnya depresiasi Rupiah menjadi faktor negatif bagi pergerakan IHSG, di tengah minimnya sentimen positif.
Kekhawatiran meningkatnya kembali ketegangan AS-Iran dan kenaikan harga minyak mentah, telah memicu kecemasan investor terkait kenaikan laju inflasi di AS.
Sementara itu, secara teknikal IHSG membentuk gap di level 6.705 dan ditutup di bawah level 6.600, setelah sempat menyentuh level terendah intraday 6.398.
Pelebaran histogram negatif MACD masih berlanjut, sedangkan Stochastic RSI mendekati oversold namun belum ada indikasi reversal sehingga diperkirakan IHSG bergerak di kisaran 6.400-6.700.
Rupiah ditutup melemah 0,4% di level Rp17.668 per Dolar AS yang merupakan rekor penutupan paling rendah sepanjang sejarah. Tekanan terhadap Rupiah mendorong munculnya perkiraan bahwa Bank Indonesia (BI) berpeluang menaikkan BI Rate pada pertemuan, 19-20 Mei 2026.
Namun, Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (18/5/2026) memprediksi bahwa nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS akan menguat, mulai Juli 2026. Dikatakan, berdasarkan historis Rupiah cenderung melemah pada bulan April hingga Juni karena adanya kenaikan permintaan Dolar.
BI Rate dinaikkan dalam rangka meredam depresiasi Rupiah lebih lanjut dan meningkatkan daya tarik investasi domestik bagi investor asing. Diharapkan imbal hasil (yield) instrumen investasi di domestik menjadi lebih menarik. Di sisi lain, kenaikan suku bunga dapat berdampak pada kenaikan biaya pinjaman yang dapat mendorong peningkatan beban bunga perusahaan dan mengurangi daya beli masyarakat. (nov)


