BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok sebesar 1,85% dengan lebih dari 600 saham turun harga pada perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026).
Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG terpantau terus bergerak di zona merah, dengan menyentuh level tertinggi di 6.631, dan level terendah di 6.398.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 616 saham turun harga, 125 saham naik harga, dan 79 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Adapun volume saham yang ditransaksikan mencapai 32,233 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 2.570.389 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp20,717 triliun.
Saham-saham sektor pertambangan nikel, batubara, dan emas, serta perkebunan kelapa sawit menjadi pemberat IHSG, dengan koreksi antara 2% hingga 10%.
Harga saham PT Vale Indonesia Tbk, perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi, terpantau anjlok sebesar 8,94% atau Rp525 menjadi Rp5.350 per lembar.
Saham perusahaan emas, seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), juga tertekan seiring penurunan harga emas dunia.
Harga saham ANTM terpantau anjlok 9,71% atau Rp340 menjadi Rp3.160 per lembar. Sedangkan harga saham HRTA terkoreksi 10,90% atau Rp290 menjadi Rp2,370 per lembar.
Sementara saham perusahaan perkebunan sawit, seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) jatuh sebesar 5,26% atau Rp400 menjadi Rp7.200 per lembar, dan PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) turun 9,15% atau Rp70 menjadi Rp695 per lembar.
Pelemahan IHSG dipengaruhi sentimen dari dalam dan luar negeri, yang dipicu ketidakpastian konflik Timur Tengah, dan pembukaan Selat Hormuz sebagai jalur distribusi utama minyak dan gas dunia.
Sikap AS dan Iran, yang belum menunjukkan keinginan melanjutkan perundingan damai, dan saling melempar ancaman, membuat investor memilih mengamankan aset dengan keluar dari emerging market.
Selain itu, kondisi fiskal Indonesia yang terbebani subsidi energi saat penerimaan negara seret, serta data ekonomi, seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi 5,61%, membuat investor cenderung menarik dana dari pasar modal Indonesia.
Hal itu, tidak hanya terjadi di pasar saham yang ditandai dengan terkoreksinya IHSG, tetapi juga pada pasar obligasi, yang terlihat dari kenaikan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) terutama untuk tenor 10 tahun.
Untuk pekan ini, IHSG diprediksi masih rawan koreksi, seiring ketidakpastian global terkait konflik Timur Tengah, dan pengelolaan fiskal Indonesia yang diragukan investor terutama asing. (jea)


