BRIEF.ID – Kalangan investor institusional semakin khawatir terhadap risiko inflasi yang lebih tinggi di Amerika Serikat (AS), meski kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi kini mulai reda.
Survei Sentimen FX dan Suku Bunga Global Bank of America yang diterbitkan pada Jumat (15/5/2026) menyebutkan bahwa makroekonomi yang tangguh telah menghadirkan kemungkinan kenaikan tingkat suku bunga Federal Reserve (The Fed), ke dalm radar pasar.
Pelacak sentimen bulanan ini, yang mensurvei 60 manajer dana yang mengelola aset gabungan dana senilai US$ 869 miliar, mengungkapkan terjadinya pergeseran tajam dalam posisi risiko global.
Analis Bank of America mencatat bahwa “responden survei semakin khawatir terhadap risiko inflasi yang lebih tinggi di AS, sementara tampak jauh kurang khawatir terhadap risiko pertumbuhan yang lebih rendah”.
Perubahan lanskap ini telah membalikkan konsensus sebelumnya; 28% manajer dana kini menyatakan bahwa pertumbuhan AS sudah terharga dengan baik, namun risiko kenaikan inflasi masih sangat underpriced, meningkat dua kali lipat dari 14% yang tercatat bulan lalu.
Bersamaan dengan itu, seperempat investor yang disurvei memandang The Fed sebagai bank sentral besar yang paling mungkin mengejutkan pasar dengan kenaikan suku bunga lebih banyak dari yang saat ini diperkirakan. Meningkatnya risiko hawkish ini secara langsung mengubah perilaku pasar obligasi.
Laporan tersebut menyoroti bahwa “meningkatnya risiko kenaikan suku bunga Fed membantu menjelaskan melemahnya keyakinan pada ’long rates’ untuk sisa tahun ini, seiring dengan menurunnya popularitas US steepeners”. Dalam valuta asing, ketahanan data diakui sebagai katalis utama jangka pendek yang akan mendorong penguatan dolar AS ke level berikutnya. (Investing.com/nov)


