BRIEF.ID – Otoritas Pasar Modal Indonesia dan investor kini sedang menunggu pengumuman review indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International) periode Agustus, yang akan dirilis Rabu (12/8/2026) waktu setempat atau Kamis (13/8/2026) dinihari WIB.
MSCI August Index Review tersebut berisi penyesuaian konstituen dan portofolio secara global, yang akan berlaku efektif pada 1 September 2026.
MSCI sebelumnya memperpanjang review terhadap Indonesia hingga November 2026. Meski demikian, ada beberapa poin penting yang perlu dicermati dalam MSCI August Index Review.
Berikut 4 poin penting yang perlu diperhatikan dalam pengumuman MSCI August Index Review, sebagaimana dirangkum dari kajian Mirae Asset Sekuritas, dan BRI Danareksa Sekuritas:
1. Tone Keputusan MSCI
Salah satu poin penting yang perlu dicermati dari pengumuman MSCI August Index Review adalah tone keputusan lembaga tersebut, apakah bersifat relief rally, neutral, atau negative surprise.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan potensi relief rally sangat mungkin terjadi apabila ada indikasi pencabutan atau pelonggaran status freeze dari MSCI.
“Hal itu, akan mendorong reli pada saham berkapitalisasi besar atau big caps, yang memiliki fundamental kuat,” kata Nafan.
2. Status Freeze
MSCI sebelumnya telah memberlakukan status freeze terhadap indeks Indonesia, dan evaluasi lanjutan akan dilakukan pada November 2026.
Jika dalam review bulan ini MSCI masih mempertahankan status freeze terhadap indeks Indonesia, tetapi tidak ada eskalasi risiko, maka para pelaku pasar akan menerapkan strategi akumulasi secara selektif.
Sebaliknya, jika MSCI kembali memberikan pringatan keras atau memperbesar risiko reclassification, maka para pelaku pasar akan mengurangi eksposur pada saham yang memiliki masalah free float, konsentrasi kepemilikan, maupun likuiditas.
3. FIF dan NOS
BRI Danareksa Sekuritas menyarankan investor untuk mengkaji arah kebijakan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) terhadap saham Indonesia.
Adapun, sejak 7 Juli 2026 tidak ada saham Indonesia teranyar, yang masuk ke dalam indeks MSCI. Selain itu, migrasi saham small caps ke standard juga tetap dibekukan.
“Base case, freeze bertahan Agustus ini, pelonggaran substantif baru mungkin muncul di Market Accessibility Review berikutnya,” demikian catatan BRI Danareksa Sekuritas.
4. Penerapan Freefloat
Poin penting yang juga perlu dicermati adalah review MSCI terkait penerapan freefloat yang diberlakukan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Penurunan harga saham secara signifikan, hingga penyesuaian kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float berpotensi menyebabkan sejumlah saham turun kelas.
Terkait dengan itu, Mirae Sekuritas dan BRI Danareksa Sekuritas menilai saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) berpotensi mengalami penurunan status dari MSCI Global Standard ke Small Cap.
Sementara itu, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berisiko didepak dari indeks, karena likuiditas yang lemah, dan harga floor yang masih bertahan di Rp50 per lembar.
Selain itu, saham PT MD Entertainment Tbk (FILM) juga berpotensi keluar dari portofolio MSCI, karena masuk dalam daftar Kepemilikan Saham Terkonsentrasi Tinggi atau High Shareholding Concentration(HSC). (Jea)


