BRIEF.ID – Indeks saham acuan Korea Selatan, Kospi melonjak 16,5% pada perdagangan Jumat (31/7/2026) setelah saham-saham teknologi, terutama Samsung Electronics dan SK Hynix, bangkit dari tekanan tajam yang terjadi sepanjang pekan. Penguatan didorong oleh membaiknya sentimen pasar global menyusul reli di Bursa Wall Street, New York.
Pada pukul 01.10 GMT atau 08.10 WIB, Kospi diperdagangkan di level 6.513,45 poin, naik 16,5% dibandingkan penutupan sebelumnya. Kenaikan tersebut berhasil memangkas hampir seluruh kerugian yang dialami indeks selama beberapa hari terakhir.
Sebelumnya, Kospi sempat merosot hingga menyentuh level 5.262,77 pada awal pekan. Dalam tiga sesi perdagangan berturut-turut, indeks acuan itu kehilangan hampir 17% nilainya, mencatat salah satu penurunan mingguan terdalam dalam beberapa tahun terakhir.
Tekanan terhadap pasar dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor atas persaingan yang semakin ketat dari produsen chip memori asal Tiongkok. Kondisi tersebut memicu aksi jual besar-besaran pada saham sektor semikonduktor, yang selama ini menjadi penggerak utama pasar saham Korea Selatan.
Namun, situasi berbalik pada perdagangan Jumat. Reli yang terjadi di Wall Street meningkatkan optimisme investor terhadap sektor teknologi global, sehingga memicu aksi beli pada saham-saham chip Korea Selatan. Samsung Electronics dan SK Hynix menjadi motor utama penguatan KOSPI, seiring pulihnya kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek industri semikonduktor.
Meski demikian, analis menilai volatilitas pasar masih berpotensi berlanjut. Investor diperkirakan tetap akan mencermati perkembangan persaingan industri chip global, khususnya ekspansi produsen Tiongkok, prospek permintaan semikonduktor, serta arah kebijakan perdagangan dan teknologi yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan-perusahaan besar di sektor tersebut.
Pemulihan tajam Kospi menunjukkan bahwa sentimen pasar masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan sektor teknologi dan semikonduktor, yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Korea Selatan maupun pergerakan pasar keuangan global. (Investing.com/nov)


