BRIEF.ID – Organisasi Maritim Internasional (IMO) PBB mengatakan akan memulai evakuasi lebih dari 11.000 pelaut yang kini terdampar di Teluk. Evakuasi dilakukan setelah pembukaan kembali Selat Hormuz.
Operasi ini menyusul perjanjian perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang mengakhiri konflik selama berbulan-bulan dan memungkinkan pelayaran komersial untuk dilanjutkan melalui salah satu jalur maritim terpenting di dunia.
Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez mengatakan evakuasi akan dilakukan bekerja sama dengan negara-negara regional dan industri pelayaran.
“Operasi skala besar ini akan dilakukan dalam kerja sama erat dengan Iran, Oman, semua negara pesisir lainnya di kawasan ini, Amerika Serikat, dan industri maritim,” kata Dominguez dikutip dari Euronews.com, Rabu (24/6/2026).
Ia menambahkan telah mengamankan jaminan keselamatan yang diperlukan dan telah memverifikasi secara menyeluruh kondisi untuk navigasi yang aman untuk mendukung operasi ini.
Iran secara efektif menutup Selat Hormuz setelah pecahnya perang pada 28 Februari 2026, menyusul serangan AS dan Israel. Gangguan tersebut menyebabkan kenaikan harga minyak global dan mengganggu pengiriman energi dan komoditas lainnya, termasuk pupuk. Ribuan pelaut tidak dapat meninggalkan wilayah tersebut karena kapal-kapal mereka tetap terjebak di perairan Teluk.
Lalu lintas pengiriman telah meningkat sejak perjanjian AS-Iran diberlakukan. Menurut data dari platform analitik pengiriman Kpler, setidaknya 36 kapal komoditas melewati Selat Hormuz pada hari Senin, tingkat lalu lintas tertinggi sejak perang dimulai.
IMO mengatakan dua rute sementara melalui selat dapat digunakan selama evakuasi dan kapal-kapal akan menerima instruksi individual.
Dominguez menyambut baik perjanjian antara Washington dan Teheran, dengan mengatakan: “Setelah berbulan-bulan mengalami kesulitan dan penderitaan bagi ribuan pelaut yang tidak bersalah, dan dampak negatif bagi seluruh dunia, saya menyambut dengan sangat puas perjanjian perdamaian yang disepakati antara Amerika Serikat dan Iran.”
Ia menambahkan bahwa kesepakatan tersebut menandai “langkah penting menuju pemulihan keamanan maritim dan mengakhiri serangan yang tidak dapat diterima terhadap pelayaran sipil.” (nov)


