BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpuruk di zona merah pada perdagangan hari ini, Selasa (21/4/2026), setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) melanjutkan pembekuan rebalancing indeks.
Pada awal sesi I perdagangan hari ini, IHSG dibuka melemah 0,45% atau 33,83 poin ke level 7.560. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 0,93% atau 7,00 poin ke posisi 748,85.
Hingga pukul 12:45 waktu JATS, IHSG terpantau masih bergeraka di zona merah, turun 0,59% atau 44,70 poin di level 7.549. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG sempat menyengtuh level tertinggi di 7.568, dan level terendah di 7.511.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 356 saham naik harga, 298 saham turun harga, dan 160 saham tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Volume saham yang ditransaksikan terpantau mencapai 24,295 miliar embar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.568.614 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp9,813 triliun.
Sentimen negatif yang membuat IHSG terpuruk datang dari pengumuman terbaru MSCI, yang kembali membekukan kajian atau review konstituen saham dari Indonesia dalam rebalancing periode Mei 2026.
Dalam pernyataan resmi, MSCI menyampaikan meskipun otoritas pasar modal Indonesia telah melakukan reformasi, pihaknya masih mengevaluasi konsistensi dan efektivitas data dan kebijakan atas reformasi tersebut, termasuk soal batasan baru free float ke 15%.
Atas penundaan rebalancing konstituen dari Indonesia tersebut, maka MSCI belum akan menambahkan saham Indonesia MSCI Investable Market Indexes, begitupun tidak ada kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), tidak ada penyesuaian Number of Share (NOS), dan kenaikan kelas dalam kategori indeks.
Seperti dilansir Phintraco Sekuritas, kebijakan MSCI tersebut menunjukkan sikap hati-hati dalam menjaga kualitas investability pasar Indonesia. Pasalnya, meskipun reformasi telah dilakukan oleh regulator Indonesia, MSCI masih membutuhkan waktu untuk memastikan implementasi kebijakan tersebut benar–benar efektif sebelum kembali melakukan normalisasi rebalancing indeks.
MSCI disebut–sebut akan menghapus saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) dan secara terbatas menggunakan data kepemilikan di atas 1% untuk menyesuaikan estimasi free float. Padahal, data baru dari reformasi belum sepenuhnya digunakan hingga proses evaluasi selesai.
Stockbit Sekuritas dalam laporan terbarunya hari ini, menyebut saham dalam daftar HSC akan dihapus dari MSCI Indexes, sejalan dengan perlakuan MSCI terhadap saham sejenis di pasar lain (preseden Hong Kong).
“Daftar HSC saat ini berisi sembilan emiten yang merupakan konstituen MSCI saat ini dan berpotensi terkena dampak langsung. Meski demikian tidak ada sinyal baru yang mengarah pada eskalasi risiko downgrade, di mana MSCI mengakui reformasi yang telah dilakukan dan memilih untuk melanjutkan proses asesmen, bukan eskalasi tindakan,” demikian laporan Stockbit Sekuritas.
Ke depan, variabel yang perlu dicermati perusahaan tercatat (emiten) maupun penjamin emisi adalah potensi penyesuaian free float oleh MSCI menggunakan data kepemilikan kurang dari 1%.
Pasalnya, yang menentukan apakah bobot mereka di indeks berubah signifikan adalah bagaimana MSCI mengklasifikasikan berbagai jenis pemegang saham (strategis/korporat vs non–strategis) dan seberapa besar perubahan free float yang dihasilkan.
Selain keputusan MSCI, perkembangan perundingan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran, juga menjadi faktor yang mempengatuhi pergerakan IHSG. Investor cenderung menunggu atau wait and see, karena perundingan damai kedua negara masih berlangsung di Islamabad, Pakistan.
Banyak kalangan mencemaskan AS-Iran tak mencapai kesepakatan dalam perundingan damai, sementara jangka waktu gencatan senjata akan berakhir Rabu (25/4/2026).
Untuk perdagangan hari ini, IHSG diprediksi masih melanjutkan tren melemah, dengan bergerak di kisaran level support 7.500 hingga level resistance 7.600. (jea)


