IHSG Terperosok ke Level 6.400, Lebih dari 500 Saham Turun Harga

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terperosok ke level 6.400 dengan lebih dari 500 saham turun harga pada perdagangan awal pekan, Senin (14/9/2026).

Pada awal perdagangan hari ini, IHSG dibuka melemah dibuka melemah 0,11% atau 7,51 poin ke level 6.533. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 0,11% atau 0,74 poin ke posisi 648,98.

Hingga pukul 11:30 waktu JATS, IHSG terpantau makin terpuruk, dengan melemah 1,72% atau 112,53 poin dan berada di level 6.428. Selama 2 jam 30 menit perdagangan berlangsung, IHSG terus bergerak di zona merah, dengan menyentuh level tertinggi di 6.543, dan level terendah di 6.424.

Data perdagangan BEI menunjukkan 509 saham turun harga, 145 saham naik harga, dan 132 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.

Volume saham yang ditransaksikan mencapai 16,224 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.102.222 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp7,429 triliun.

Tekanan jual melanda sebagian besar saham di BEI, seiring sentimen negatif kenaikan harga minyak dunia, dan lonjakan inflasi Amerika Serikat (AS) pada Agustus 2026.

Harga minyak dunia jenis Brent yang menjadi acuan global berada di level US$107,7 per barel. Sedangkan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$103 per barel.

Lonjakan harga minyak terjadi, seiring konflik Timur Tengah yang masih memanas antara AS dan Iran, sehingga mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Selain itu, pelemahan rupiah juga dipicu kekhawatiran pengetatan kebijakan moneter AS seiring data inflasi AS yang meningkat pada Agustus 2026.

Inflasi inti AS pada Agustus 2026 meningkat 0,3% secara bulanan atau month-to-month (mtm) dibandingkan Juli 2026, karena kenaikan indeks harga konsumen inti, yang tidak termasuk biaya makanan dan energi.

Data inflasi AS terbaru itu, menambah tekanan pada bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) pada rapat pekan ini.

Ekspetasi pelaku pasar bahwa The Fed bakal menaikkan FFR sebesar 25 basis poin (Bps) pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026, meningkat menjadi 88%.

Sedangkan CME FedWatch menunjukkan ada peluang sekitar 86,2% bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps. Padahal, sebelum data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) dirilis Jumat (11/9/2026),  peluangnya kenaikan FFR masih di kisaran 70%.  

Saham-saham di sektor keuangan, energi, konstruksi, dan properti, menjadi yang paling banyak dilepas investor, pada perdagangan hari ini.

Terkait dengan berbagai sentimen negatof, IHSG diprediksi terus tertekan di zona merah, dengan bergerak di kisaran level support 6.400 hingga level resistance 6.500. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Komisi V DPR Minta Kemenhub Investigasi Tenggelamnya KM Virgo Transport 8

BRIEF.ID - Komisi V DPR RI meminta Kementerian Perhubungan...

Aceh Culinary Festival 2026 Catat Transaksi Rp1,5 Miliar

BRIEF.ID - Aceh Culinary Festival (ACF) 2026 mencatat nilai...

Hari Ketujuh, SAR Perluas Pencarian 8 Penumpang Speed Boat Hilang Kontak di Selat Sunda

BRIEF.ID - Delapan penumpang speed boat yang hilang kontak...

Rupiah Awal Pekan Lesu Tertekan Lonjakan Harga Minyak Dunia

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah lesu terhadap dolar...