BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah lesu terhadap dolar Amerika Serikat (AS), tertekan oleh lonjakan harga minyak dunia pada perdagangan awal pekan, Senin (14/9/2026).
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah dibuka melemah 0,02% atau 3 poin menjadi Rp17.614 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.611 per dolar AS.
Hingga pukul 10:30 WIB, pelemahan nilai tukar rupiah Jisdor berlanjut hingga menyentuh level Rp17.641 per dolar AS, melemah 0,17% atau 30 poin ke level Rp17.642 per dolar AS.
Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,16% ke level Rp17.629 per dolar AS, dan terus tertekan mengikuti pergerakan mayoritas mata uang Asia.
Adapun mata uang Asia yang dibuka melemah terhadap dolar AS pada sesi pagi perdagangan hari ini, antara lain Peso Filipina, Baht Thailand Won Korea Selatan, Dolar Taiwan, Yen Jepang, Dolar Singapura, dan Ringgit Malaysia.
Pelemahan rupiah dipicu lonjakan harga minyak dunia, seiring konflik Timur Tengah yang masih memanas, sehingga mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Harga minyak dunia jenis Brent yang menjadi acuan global berada di level US$107,7 per barel. Sedangkan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$103 per barel.
Selain itu, pelemahan rupiah juga dipicu kekhawatiran pengetatan kebijakan moneter AS seiring data inflasi AS yang meningkat pada Agustus 2026.
Inflasi inti AS pada Agustus 2026 meningkat 0,3% secara bulanan atau month-to-month (mtm) dibandingkan Juli 2026, karena kenaikan indeks harga konsumen inti, yang tidak termasuk biaya makanan dan energi.
Data inflasi AS terbaru itu, menambah tekanan pada bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) pada rapat pekan ini.
Ekspetasi pelaku pasar bahwa The Fed bakal menaikkan FFR sebesar 25 basis poin (Bps) pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026, meningkat menjadi 88%.
Sedangkan CME FedWatch menunjukkan ada peluang sekitar 86,2% bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps. Padahal, sebelum data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) dirilis Jumat (11/9/2026), peluangnya kenaikan FFR masih di kisaran 70%.
Untuk perdagangan hari ini, kurs rupiah diprediksi tertekan di zona merah, dan bergerak di kisaran level Rp17.600 per dolar AS hingga Rp17.650 per dolar AS. (Jea)


