BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan, Jumat (6/11/2026), diperkirakan masih berpeluang menguat, namun dibayangi risiko aksi ambil untung (profit taking) setelah mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan sebelumnya.
Riset Phintraco Sekuritas menyebutkan, IHSG diproyeksikan bergerak pada level resistance 5.125, pivot 5.000, dan support 4.900.
Sejumlah saham yang menjadi pilihan atau unggulan untuk dicermati investor adalah BBCA, BBRI, AMMN, EMAS, dan INDF.
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup menguat 2,25% ke level 5.030,26. Secara teknikal, indeks berhasil bertahan di atas garis Moving Average (MA) 3 dan MA 5.
Apabila mampu mempertahankan posisi di atas level psikologis 5.000, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan untuk menguji resistance di kisaran 5.100–5.125.
Meski demikian, investor perlu mewaspadai potensi aksi ambil untung setelah kenaikan indeks yang cukup tajam. Ketidakpastian pasar global maupun domestik juga masih berpotensi memengaruhi pergerakan indeks.
Ekonomi Tumbuh 5,47%, Jadi Sentimen Positif
Dari sisi fundamental, perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,47% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Kuartal III-2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan 5,29% pada Kuartal II-2026 dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 5,2%.
Konsumsi rumah tangga masih tumbuh 5,04%, meskipun sedikit melambat dibandingkan 5,06% pada kuartal sebelumnya. Konsumsi tetap ditopang stimulus pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan inflasi dan biaya pinjaman yang lebih tinggi.
Sementara itu, pengeluaran pemerintah mengalami perlambatan cukup tajam menjadi 8,95% dari sebelumnya 15,97%. Pertumbuhan investasi juga melambat menjadi 6,6% dibandingkan 6,87% pada kuartal sebelumnya.
Berdasarkan lapangan usaha, peningkatan aktivitas ekonomi tercatat pada sektor manufaktur, akomodasi, transportasi dan pergudangan, serta komunikasi.
Pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi pasar menjadi salah satu sentimen positif bagi pasar saham. Namun, investor tetap perlu memperhatikan kualitas pertumbuhan, terutama perkembangan konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah.
Reformasi Transparansi Pasar Modal
Selain faktor ekonomi, pelaku pasar juga mencermati langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) memperluas keterbukaan informasi kepemilikan saham di atas 1 persen.
Kebijakan tersebut mencakup identifikasi status pengendali dan pihak terafiliasi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat transparansi pasar modal Indonesia menjelang evaluasi MSCI pada 11 November 2026.
Keterbukaan informasi diharapkan membantu investor memahami struktur kepemilikan dan konsentrasi saham secara lebih akurat.
Namun, dampak positif kebijakan tersebut terhadap persepsi investor internasional, termasuk MSCI, akan sangat bergantung pada konsistensi implementasi serta efektivitas keterbukaan informasi.
Dengan kombinasi sentimen pertumbuhan ekonomi yang positif, reformasi transparansi pasar modal, dan potensi aksi ambil untung, pergerakan IHSG pada akhir pekan diperkirakan berlangsung dinamis.
Investor disarankan mencermati level psikologis 5.000 sebagai area penting, sekaligus memperhatikan resistance 5.125 dan support 4.900 sebelum mengambil keputusan investasi. (nov)


