BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Jumat (24/7/2026) di zona merah. IHSG ditutup melemah 118,88 poin atau 1,88% ke level 6.196,43, akibat tekanan jual yang terjadi hampir di seluruh sektor.
Pelemahan indeks dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Pelaku pasar masih mencermati meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, termasuk kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat (AS) terhadap 60 mitra dagang utama, yang memicu kekhawatiran terhadap prospek perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia.
Di saat yang sama, kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Di pasar domestik, aksi jual terjadi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps), terutama di sektor perbankan, telekomunikasi, energi, dan komoditas. Pelemahan saham-saham unggulan tersebut menjadi faktor utama yang menyeret IHSG ke zona negatif hingga penutupan perdagangan.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dan arus dana investor asing. Sikap hati-hati investor menjelang rilis sejumlah data ekonomi global serta ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed turut membatasi minat beli di pasar saham.
Volatilitas pasar masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Investor disarankan mencermati perkembangan sentimen global, pergerakan harga komoditas, serta laporan kinerja emiten sebagai katalis yang dapat memengaruhi arah pergerakan IHSG pada perdagangan berikutnya. (nov)


