BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (29/10/2026) diperkirakan masih bergerak konsolidatif dengan peluang penguatan terbatas atau technical rebound. Pelaku pasar diperkirakan masih mencermati sejumlah sentimen eksternal maupun domestik yang memengaruhi pergerakan indeks.
Riset Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak dengan level resistance di 5.400, pivot 5.300, dan support 5.180. Sejumlah saham yang menjadi pilihan, antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Astra International Tbk (ASII), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Timah Tbk (TINS).
Pada perdagangan sebelumnya, Rabu (28/10/2026), IHSG ditutup menguat 0,31% ke level 5.282,31. Sebelum berbalik menguat, indeks sempat tertekan hingga level 5.167.
Tekanan terhadap pasar saham domestik dipengaruhi sejumlah sentimen negatif, di antaranya harga minyak yang masih bertahan di level tinggi, depresiasi rupiah yang berlanjut, serta antisipasi pelaku pasar terhadap rebalancing indeks MSCI pada November 2026.
Di tengah tekanan tersebut, penguatan saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip, termasuk BBCA dan ASII, turut menopang pergerakan IHSG. Secara teknikal, indeks diperkirakan bergerak sideways dalam rentang 5.150–5.350 pada perdagangan Kamis.
BEI Perkuat Reformasi Pasar Modal
Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) mempertegas tiga prioritas strategis pasar modal untuk 2027, yakni meningkatkan transparansi, memperkuat likuiditas, dan mengoptimalkan efektivitas pengawasan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memulihkan kepercayaan investor di tengah meningkatnya tuntutan reformasi untuk memperkuat tata kelola pasar modal Indonesia.
BEI juga menyesuaikan target penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Target IPO saham pada 2026 diturunkan menjadi 15 perusahaan dari target awal sebanyak 50 perusahaan. Sementara itu, untuk 2027, BEI menargetkan 25 perusahaan melantai di bursa.
Di tengah tantangan kepercayaan investor, peningkatan kualitas perusahaan yang melakukan IPO dinilai perlu menjadi prioritas dibandingkan sekadar mengejar jumlah pencatatan saham baru.
BEI juga membuka peluang pelaksanaan IPO setelah proses demutualisasi bursa rampung. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 28 Oktober 2026, BEI mengambil langkah awal melalui perubahan anggaran dasar yang memungkinkan kepemilikan saham bursa tidak lagi terbatas pada anggota bursa.
Demutualisasi diharapkan dapat membuka peluang investasi baru, mendorong inovasi, serta meningkatkan transparansi dan kualitas tata kelola pasar modal.
Meski demikian, proses tersebut juga memiliki sejumlah risiko yang perlu diantisipasi, seperti potensi konflik kepentingan, dominasi entitas besar, dan kemungkinan penyesuaian biaya transaksi.
Dengan kombinasi sentimen teknikal, perkembangan ekonomi, serta agenda reformasi pasar modal, pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan berlangsung hati-hati. Investor perlu mencermati level support dan resistance serta perkembangan sentimen global dan domestik sebelum mengambil keputusan investasi. (nov)


