BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ambruk ke zona merah menjelang rapat Komite Pengambil Kebijakan atau Federal Open Market Committee (FOMC) Federal Reserve (The Fed) pada 15-16 September 2026.
Pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Selasa (15/9/2026), IHSG terpantau ambruk 0,76% atau 49,77 poin ke level 6.484. Sebelumnya, IHSG dibuka menguat 0,15% atau 10,08 poin ke posisi 6.544.
Sepanjang 3 jam perdagangan berlangsung, IHSG lebih banyak bergerak di zona merah, dengan menyentuh level tertinggi di 6.549, dan level terendah 6.461.
Volume saham yang ditransaksikan mencapai 16.754 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.056.844 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp7,158 triliun.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 300 saham turun harga, 324 saham naik harga, dan 164 saham tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Meski lebih banyak saham naik harga, tekanan terhadap IHSG dipicu aksi jual investor terhadap saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps, terutama di sektor rokok.
Harga saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) anjlok 6,25% atau Rp45 menjadi Rp675 per lembar, sedangkan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) terkoreksi 5,26% atau Rp1.000 menjadi Rp18.000 per lembar.
Selain itu, saham 4 bank besar, yakni PT Bank Central Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga terkoreksi di atas IHSG.
Harga saham BBCA turun 0,77% atau Rp50 menjadi Rp6.450 per lembar, BMRI anjlok 2,03% atau Rp90 menjadi Rp4.350 per lembar, BBRI merosot 2,06% atau Rp70 menjadi Rp3.330 per lembar, dan BBNI ambruk 2,33% atau Rp90 menjadi Rp3.780 per lembar.
Pelemahan IHSG hari ini dipicu tekanan dari luar negeri, yakni kenaikan harga minyak dunia, dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
Selain itu, ekspetasi investor global terkait kemungkinan FOMC The Fed akan menaikkan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) juga semakin meningkat.
FOMC The Fed hampir dipastikan menaikkan suku bunga 25 bps (basis points). Mengutip CME FedWatch, probabilitas kenaikan FFR sebesar 25 bps menjadi 3,75-4% telah meningkat menjadi 92,4%.
Hal itu, mendorong arus modal keluar atau capital inflow dari pasar keuangan emerging market, termasuk Indonesia. Hari ini, mayoritas bursa Asia dibuka melemah.
Selain itu, investor juga masih memasang sikap menunggu atau wait and see terhadap kebijakan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) baru, yang menggantikan Putbaya Yudhi Sadewa.
Terkait dengan itu, IHSG hari ini diprediksi bergerak variatif dengan kecenderungan melemah terbatas di kisaran level support 6.400 hingga level resistance 6.550. (Jea)
IHSG Ambruk ke Zona Merah Jelang Rapat FOMC The Fed
BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ambruk ke zona merah menjelang rapat Komite Pengambil Kebijakan atau Federal Open Market Committee (FOMC) Federal Reserve (The Fed) pada 15-16 September 2026.
Pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Selasa (15/9/2026), IHSG terpantau ambruk 0,76% atau 49,77 poin ke level 6.484. Sebelumnya, IHSG dibuka menguat 0,15% atau 10,08 poin ke posisi 6.544.
Sepanjang 3 jam perdagangan berlangsung, IHSG lebih banyak bergerak di zona merah, dengan menyentuh level tertinggi di 6.549, dan level terendah 6.461.
Volume saham yang ditransaksikan mencapai 16.754 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.056.844 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp7,158 triliun.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 300 saham turun harga, 324 saham naik harga, dan 164 saham tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Meski lebih banyak saham naik harga, tekanan terhadap IHSG dipicu aksi jual investor terhadap saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps, terutama di sektor rokok.
Harga saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) anjlok 6,25% atau Rp45 menjadi Rp675 per lembar, sedangkan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) terkoreksi 5,26% atau Rp1.000 menjadi Rp18.000 per lembar.
Selain itu, saham 4 bank besar, yakni PT Bank Central Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga terkoreksi di atas IHSG.
Harga saham BBCA turun 0,77% atau Rp50 menjadi Rp6.450 per lembar, BMRI anjlok 2,03% atau Rp90 menjadi Rp4.350 per lembar, BBRI merosot 2,06% atau Rp70 menjadi Rp3.330 per lembar, dan BBNI ambruk 2,33% atau Rp90 menjadi Rp3.780 per lembar.
Pelemahan IHSG hari ini dipicu tekanan dari luar negeri, yakni kenaikan harga minyak dunia, dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
Selain itu, ekspetasi investor global terkait kemungkinan FOMC The Fed akan menaikkan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) juga semakin meningkat.
FOMC The Fed hampir dipastikan menaikkan suku bunga 25 bps (basis points). Mengutip CME FedWatch, probabilitas kenaikan FFR sebesar 25 bps menjadi 3,75-4% telah meningkat menjadi 92,4%.
Hal itu, mendorong arus modal keluar atau capital inflow dari pasar keuangan emerging market, termasuk Indonesia. Hari ini, mayoritas bursa Asia dibuka melemah.
Selain itu, investor juga masih memasang sikap menunggu atau wait and see terhadap kebijakan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) baru, yang menggantikan Putbaya Yudhi Sadewa.
Terkait dengan itu, IHSG hari ini diprediksi bergerak variatif dengan kecenderungan melemah terbatas di kisaran level support 6.400 hingga level resistance 6.550. (Jea)


