BRIEF.ID – Harga saham pada perdagangan di Bursa Wall Street, New York, Amerika Serikat, Senin (22/6/2026) berfluktuasi setelah harga minyak turun dan saham perusahaan teknologi besar jatuh membebani.
Indeks S&P 500 turun 0,4%, setelah mencatatkan minggu kemenangan ke-11 dalam 12 minggu terakhir. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 148 poin atau 0,3%, dan indeks Nasdaq Composite merosot 1,3%.
Sektor Jasa Komunikasi S&P 500 menjadi sektor yang paling merugi di antara 11 sektor, sementara Real Estat, Energi, dan Kesehatan melengkapi tiga sektor yang paling banyak mengalami kenaikan.
Di pasar minyak, harga turun setelah pembicaraan akhir pekan antara Amerika Serikat dan Iran mengenai perang mereka. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan tersebut menciptakan “fondasi yang baik untuk kesepakatan akhir yang sukses.”
Berakhirnya perang dapat membuka Selat Hormuz untuk kapal tanker minyak dan memungkinkan dimulainya kembali pengiriman minyak dari Teluk Persia tanpa sengketa maupun gangguan. Militer Iran mengatakan telah menutup kembali Selat Hormuz, meskipun Komando Pusat AS membantah hal itu.
Harga minyak mentah Brent turun 3,2% menjadi US$ 77,52 per barel, mendekati harga sekitar US$ 70 sebelum perang. Harga minyak mentah acuan AS turun 2,6% menjadi US$ 73,86 per barel.
Anjloknya harga minyak tidak menurunkan imbal hasil (yield)obligasi pemerintah di pasar obligasi. Imbal hasil telah meningkat karena spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) kemungkinan akan menaikkan suku bunga tahun ini untuk menekan inflasi, yang telah meningkat karena harga minyak yang mahal akibat perang Iran.
Kalangan ekonom memperkirakan laporan pada hari Kamis (25/6/2026) nanti akan menunjukkan ukuran inflasi untuk konsumen AS meningkat menjadi 4,1% pada bulan Mei dari 3,8% pada bulan April. (AP/nov)


