BRIEF.ID – Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan hari ini, Senin (27/4/2026), imbas perundingan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang menemui jalan buntu.
Harga minyak jenis Brent, yang menjadi acuan, melonjak hingga 2,3% ke level US$107,73 per barel. Sedangkan West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$96 per barel.
Lonjakan harga minyak terjadi, seiring butunya perundingan damai lanjutan antara AS dan Iran, di Pakistan. Presiden AS, Donald Trump, membatalkan rencana kunjungan utusan khusus, Jared Kushner dan Steve Witkoff, ke Pakistan.
Trump menyampaikan Iran telah menawarkan beberapa poin penting untuk perdamaian, namun perundingan harus dilakukan untuk menuntaskan kesepakatan.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan tidak akan masuk ke dalam perundingan jika negaranya tetap berada dalam ancaman.
“Kami tidak akan masuk dalam negosiasi yang dipaksakan di bawah ancaman atau blokade,” kata Masoud Pezeshkian, seperti dikutip Bloomberg, Senin (27/4/2026).
Pernyataan kedua pemimpin negara tersebut, membuat pelaku pasar meragukan tercapainya perundingan damai untuk mengakhiri konflik Timur Tengah.
Meskipun hingga saat ini kesepakatan gencatan senjata tetap berjalan, namun Selat Hormuz yang seharusnya dibuka untuk distribusi minyak dunia, kembali ditutup Iran sejak Rabu (22/4/2026).
Hal itu, membuat harga minyak dunia kembali melonjak ke level US$100, karena kekhawatiran investor terhadap kelangkaan pasokan minyak dunia, yang dapat menyebabkan krisis energi global.
Pelaku pasar menilai meski AS dan Iran tidak lagi berkonfrontasi secara langsung melalui aksi saling sekarang, situasi saat ini justru menimbulkan ketidakpastian karena berada dalam kebuntuan.
Jika Selat Hormuz makin lama ditutup, tingkat konsumsi global untuk minyak mentah harus dikalibrasi ulang ke level yang lebih rendah untuk menyesuaikan dengan pasokan yang telah anjlok sekitar 10%.
Penutupan Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia, telah menimbulkan kehilangan pasokan minyak dunia sebesar 1 miliar barel. Angka ini, tercatat lebih dari dua kali lipat cadangan darurat yang dirilis pemerintah berbagai negara sejak konflik Timur Tengah pecah pada 28 Februari 2026. (jea)


