Harga Emas Turun, Investor Tunggu Data CPI Amerika Serikat

BRIEF.ID – Harga emas bergerak bervariasi pada perdagangan Selasa (11/8/2026) dan turun dari level tertinggi dalam lebih dari dua bulan. Investor memilih berhati-hati menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS), sementara kenaikan harga minyak menambah perhatian terhadap risiko inflasi.

Harga emas di pasar spot turun 0,5% menjadi US$ 4.368,38 per troy ons, setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sejak awal Juni. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS justru naik tipis 0,2% menjadi US$4.427,32 per troy ons.

Pergerakan emas terjadi ketika harga minyak dunia kembali menguat. Harga minyak naik hampir 2% pada Selasa (11/8/2026), setelah sehari sebelumnya melonjak sekitar 5%. Kenaikan tersebut dipicu ketidakpastian mengenai kondisi dan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi dunia.

Investor masih menunggu kepastian mengenai kemungkinan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Sejumlah pejabat Amerika Serikat, termasuk Presiden Donald Trump, sebelumnya menyatakan bahwa pembicaraan sedang berlangsung. Namun, Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington dan menyatakan hanya berkomunikasi dengan Oman.

Kedua pihak juga menyampaikan pernyataan berbeda mengenai status Selat Hormuz. Salah satu pihak menyatakan jalur tersebut tetap terbuka bagi pelayaran komersial, sementara pihak lainnya menilai kondisi di lapangan membuat jalur tersebut praktis masih tertutup.

Ketidakpastian ini membuat harga minyak bergerak volatil dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi. Kondisi ini menjadi perhatian bagi pasar emas karena inflasi yang lebih tinggi dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga AS.

Data CPI

Fokus pasar kini beralih kepada data Consumer Price Index (CPI) AS yang akan dirilis. Data inflasi tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam memperkirakan arah kebijakan moneter Federal Reserve.

Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, peluang suku bunga AS bertahan tinggi dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.

Sebaliknya, jika data CPI lebih rendah dari ekspektasi, pasar dapat kembali meningkatkan harapan terhadap pelonggaran kebijakan moneter, yang berpotensi memberikan dukungan bagi harga emas.

Di sisi lain, Iran dan Oman dilaporkan tengah membahas kerangka pengelolaan Selat Hormuz. Qatar menyebut pembicaraan kedua negara telah memasuki tahap lanjut dan kritis.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif menyatakan AS dan Iran semakin dekat dengan kemungkinan tercapainya suatu bentuk kesepakatan. (Investing.com/nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Penjualan Ritel Turun 3,0% pada Juni 2026

BRIEF.ID – Penjualan ritel Indonesia tercatat mengalami kontraksi 3,0%...

IHSG Berpotensi Rebound, Investor Cermati Level Support 6.180

BRIEF.ID – JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)...

Saham AS Melemah, Harga Minyak Berfluktuasi di Tengah Ketidakpastian Iran

BRIEF.ID – Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali melemah...

Harga Minyak Naik 1%, Iran Pertahankan Penutupan Selat Hormuz

BRIEF.ID – Harga minyak dunia naik lebih dari 1%...