Harga Bitcoin Tergelincir di Bawah US$ 65.000, Dana ETF Mengalir Deras

BRIEF.ID – Harga Bitcoin kembali tertekan hingga berada di bawah level US$ 65.000, pada akhir pekan. Pelemahan harga  belum sepenuhnya mencerminkan sentimen negatif investor, menyusul derasnya arus dana yang masuk ke produk ETF Bitcoin dan Ether di Amerika Serikat (AS).

Mengutip Investing.com, Senin (10/8/2026), Bitcoin diperdagangkan di level US$ 64.800,9 atau turun tipis 0,28% dalam 24 jam terakhir.

Di pasar ETF, investor  menunjukkan minat yang relatif kuat. ETF spot Bitcoin dan Ether di AS mencatatkan total arus masuk sekitar US$1,1 miliar sepanjang pekan lalu. Nilai ini menjadi arus dana mingguan terbesar sejak April.

ETF Bitcoin menyumbang US$853,5 juta, sekaligus mencatat arus masuk selama lima sesi perdagangan berturut-turut hingga Jumat. Ini merupakan performa mingguan terbaik sejak 17 April 2026.

Produk IBIT milik BlackRock mendominasi arus dana tersebut dengan kontribusi US$693,7 juta atau lebih dari 80% dari total arus masuk ETF Bitcoin. Sementara itu, FBTC milik Fidelity menarik dana tambahan sebesar US$116,4 juta.

Arus dana positif juga terlihat pada ETF spot Ether. Produk ini mencatatkan arus masuk sebesar US$244,9 juta sepanjang pekan lalu.

Dengan capaian itu, ETF Ether memperpanjang tren arus masuk menjadi lima minggu berturut-turut, periode terpanjang sepanjang 2026.

Arus masuk harian terbesar terjadi pada Kamis, ketika ETF Ether menarik dana sebesar US$92,2 juta.

Penguatan arus dana tersebut menunjukkan bahwa sebagian investor masih melihat aset kripto sebagai instrumen investasi jangka panjang, meskipun harga Bitcoin dan aktivitas perdagangan belum menunjukkan pemulihan yang kuat.

Analis Bloomberg Intelligence Eric Balchunas mencatat sejumlah dana Bitcoin tetap membukukan arus masuk setiap hari sejak insiden eksploitasi Coldcard mencuat pada 30 Juli.

Galaxy Research memperkirakan sekitar 1.719 Bitcoin senilai US$111 juta telah dicuri dalam insiden tersebut. Lembaga riset itu memperingatkan bahwa total kerugian dapat meningkat hingga lebih dari US$130 juta.

Data Ekonomi AS Jadi Beban  

Tekanan terhadap Bitcoin meningkat menjelang akhir pekan setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan hasil yang mengejutkan.

Data payrolls AS tercatat turun 23.000, berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 80.000.

Data ini mendorong investor untuk lebih berhati-hati terhadap aset berisiko. Bitcoin, yang selama ini diperdagangkan sebagai salah satu aset berisiko tinggi, ikut merasakan tekanan tersebut.

Selain itu, aktivitas perdagangan ETF Bitcoin juga melemah. Volume transaksi turun 9% menjadi US$8,19 miliar, menjadikannya volume mingguan terendah kedua sejak Oktober 2024.

Meski kinerja ETF dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan perbaikan, secara kumulatif investor masih menarik dana dari produk Bitcoin dan Ether sejak awal tahun.

ETF Bitcoin mencatat arus keluar bersih sekitar US$4,44 miliar sejak Januari. Sementara ETF Ether mengalami arus keluar sekitar US$873 juta.

Situasi ini memperlihatkan bahwa pasar kripto masih berada dalam fase penuh tarik-menarik. Di satu sisi, masuknya dana besar ke ETF menunjukkan adanya permintaan dari investor institusional. Di sisi lain, harga Bitcoin masih menghadapi tekanan dari lemahnya volume perdagangan, ketidakpastian ekonomi AS, serta kekhawatiran terkait keamanan dan perkembangan jaringan. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan, Investor Cermati Rebalancing MSCI

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan...

Spider-Man:Brand New Day Cetak Rekor, The Odyssey Jadi Film Terlaris Christopher Nolan

BRIEF.ID - Film Spider-Man: Brand New Day terus melaju...

Dari Tanah Seram ke Panggung Istana: “Koboi dari Timur” dan Pertaruhan Besar di Arena Investasi

BRIEF.ID - Jejak langkahnya tidak dimulai dari ruang kuliah...

Harga Bitcoin Dekati US$ 65.000, Investor Waspadai Risiko Chain Split

BRIEF.ID - Harga Bitcoin kembali mendekati level US$ 65.000,...