BRIEF.ID – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, saat ini nilai tukar Rupiah berada dalam kondisi undervalued atau terlalu lemah. Penilaian berdasarkan pada perbandingan nilai tukar dengan fundamental ekonomi nasional yang sebenarnya tetap kokoh. Pada penutupan perdagangan, Selasa (5/5/2026) Rupiah melemah sebesar 0,17% di level 17.423 per Dolar AS.
Pernyataan Perry disampaikan usai mengikuti rapat Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta.
“Fundamental kita itu kuat, pertumbuhan sangat tinggi 5,11%, inflasi rendah, dan kredit juga tumbuh tinggi,” ujar Perry dikutip dari Investing.com, Rabu (6/5/2026).
Perry menjelaskan adanya anomali yang dipicu oleh faktor eksternal serta tren musiman dalam negeri. Kondisi global seperti tingginya harga minyak dunia dan suku bunga bank sentral AS menjadi penyebab utama tekanan terhadap Rupiah.
Kenaikan imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury turut memicu terjadinya penguatan dolar secara masif. Hal ini berdampak pada fenomena pelarian modal dari pasar negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia.
Dari sisi domestik, permintaan terhadap dolar AS biasanya meningkat secara musiman pada periode April hingga Juni. Kebutuhan valuta asing ini melonjak untuk keperluan repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta pembiayaan jemaah haji.
Meski menghadapi berbagai tekanan tersebut, Bank Indonesia optimistis nilai tukar akan kembali stabil dalam waktu dekat. Fundamental ekonomi yang positif menjadi pondasi utama bagi Rupiah untuk bergerak menguat sesuai nilai wajarnya.
Pemerintah dan otoritas moneter terus bersinergi guna menjaga stabilitas sektor keuangan nasional di tengah volatilitas pasar global. Strategi intervensi tetap dilakukan secara terukur untuk meminimalkan dampak depresiasi mata uang terhadap perekonomian riil. (nov)


