BRIEF.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan menjeda operasi yang bertujuan memulihkan pengiriman komersial melalui Selat Hormuz menyusul hampir tercapainya kesepakatan dengan Iran.
Di sisi lain, Trump menyatakan blokade Angkatan Laut terhadap Iran akan tetap diberlakukan.
Trump mengatakan bahwa “kemajuan besar” telah dicapai menuju “perjanjian yang lengkap dan final” dengan Iran, dan operasi Selat Hormuz yang disebut Proyek Kebebasan ” akan dijeda untuk waktu singkat guna melihat apakah Perjanjian dapat diselesaikan dan ditandatangani.”
Pernyataan Trump muncul setelah peluncuran Proyek Kebebasan awal pekan ini memicu respons militer dari Iran, serta Teheran dilaporkan menyerang sejumlah kapal di jalur itu, sekaligus meluncurkan rudal ke arah Persatuan Emirat Arab (PEA).
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, pada Selasa (5/5/2026) menyatakan, Washington tidak bermaksud untuk kembali meningkatkan ketegangan dengan Teheran, dan bahwa Proyek Kebebasan merupakan langkah sementara.
Hegseth juga mengklaim, gencatan senjata masih berlaku meskipun terjadi aksi militer baru di Selat Hormuz.
AS menyatakan telah menghancurkan beberapa kapal kecil Iran, meskipun Teheran membantah jumlah dan jenis kapal yang dimaksud.
Trump meluncurkan Proyek Kebebasan sebagai upaya untuk memulihkan pengiriman komersial melalui Hormuz. Iran secara efektif memblokir jalur tersebut sejak awal meletusnya perang.
AS kemudian merespons dengan memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran, berupaya menekan Teheran secara ekonomi agar mau menerima kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, awal pekan ini mengakui adanya kemajuan dalam pembicaraan yang difasilitasi Pakistan, namun memperingatkan AS agar tidak memicu bentrokan militer baru di Selat Hormuz.
Jalur pelayaran ini menjadi titik fokus utama dalam perang, mengingat penutupannya memotong sekitar 20% pasokan minyak dunia. (nov)


