BRIEF.ID – Gubernur Bank of England (BoE) Andrew Bailey menyambut baik langkah pasar keuangan yang mulai mengurangi taruhan kenaikan suku bunga, seraya menambahkan bahwa trajektori ke depan akan bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah.
Ia juga mendukung kebijakan mentoleransi inflasi di atas target demi meredam pelemahan ekonomi.
“Saya berharap ini terus berlanjut. Menurut saya, hal itu akan bergantung pada perkembangan di Timur Tengah,” kata Bailey saat menghadiri sebuah konferensi di Reykjavík, Islandia, Jumat (28/5/2026).
Pasar keuangan saat ini sepenuhnya memperhitungkan satu kali kenaikan suku bunga seperempat poin sepanjang sisa tahun 2026, yaitu pada bulan November, dengan peluang kenaikan kedua hanya sekitar satu banding tiga. Pada bulan Maret, pasar memperkirakan lebih dari tiga kali kenaikan.
Bailey mengatakan, membiarkan inflasi berjalan di atas target 2% bank sentral adalah hal yang dapat dibenarkan mengingat ketidakpastian mengenai dampak perang Iran terhadap perekonomian serta lemahnya laju pertumbuhan.
“Toleransi tersebut akan melemah jika tanda-tanda efek putaran kedua mulai muncul,” ujarnya, merujuk pada tekanan inflasi jangka panjang.
Menurut Bailey, BoE telah memperketat kebijakan moneter dengan menghapus opsi pemotongan suku bunga, dan mengatakan hal itu sudah mulai berdampak pada perekonomian.
“Kami harus memantau situasi di Timur Tengah dan bagaimana hal itu mempengaruhi perekonomian serta inflasi Inggris secara sangat cermat, dan menyesuaikan kebijakan sesuai kebutuhan,” katanya.
Dampak Perang Iran
Komite Kebijakan Moneter (MPC) BoE mempertahankan suku bunga pada 30 April 2026 sembari menunggu untuk menilai dampak ekonomi dari perang Iran, meskipun bank sentral menyatakan memperkirakan inflasi akan meningkat sebagai respons terhadap guncangan harga energi akibat konflik tersebut.
Bailey dan sebagian besar anggota MPC telah memberi sinyal bahwa mereka tidak terburu-buru untuk menaikkan biaya pinjaman.
Sebaliknya, para pembuat kebijakan di Bank Sentral Eropa (ECB) telah memberi sinyal kemungkinan menaikkan suku bunga pada bulan Juni 2026, setelah ECB memangkas suku bunga lebih besar dibandingkan BOE sebelum perang dimulai.
MPC akan mengadakan rapat pada 18 Juni 2026 dengan kondisi ekonomi yang kehilangan momentum. Konsumen mengurangi pengeluaran, pelaku bisnis menahan investasi, menumpuk persediaan, dan memangkas lapangan kerja di tengah meningkatnya biaya energi. Data inflasi April 2026 yang lebih rendah dari perkiraan memberikan amunisi tambahan bagi pihak-pihak yang mendukung kebijakan mempertahankan suku bunga.
Konflik Iran telah membuat Inggris rentan terhadap tekanan biaya hidup kedua dalam kurun waktu kurang dari lima tahun, mengingat ketergantungannya yang besar pada impor energi. Bailey mengatakan bahwa “warisan empat tahun lalu,” ketika inflasi melonjak ke angka dua digit menyusul invasi Rusia ke Ukraina, harus turut dipertimbangkan.
“Karena dampaknya membutuhkan waktu lebih lama untuk terasa, argumen untuk mengabaikan efek tidak langsung menjadi lebih lemah, dan efek tidak langsung yang berkepanjangan dapat membuat inflasi berada di atas target terlalu lama kecuali kebijakan moneter merespons,” ujarnya. (Investing.com/nov)


