BRIEF.ID – Lembaga pemeringkat Fitch Ratings memperingatkan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia menghadapi tekanan seiring turunnya cadangan devisa dan kepercayaan investor.
Dalam laporan terbaru, yang dirilis 1 Juli 2026, Fitch Ratings menyoroti cadangan devisa Indonesia yang turun 4,6% dalam 3 bulan (Maret-Mei 2026), hanya cukup untuk 4,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri, berada di bawah median negara dengan rating BBB.
Pada Mei 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$144,9 miliar. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri.
Fitch Ratings juga menyoroti neraca perdagangan Indonesia yang pertama kali mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026. Hal itu, sekaligus mengakhiri surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Hal ini, semakin menurunkan kepercayaan investor terhadap kondisi perekonomian Indonesia, sehingga arus modal keluar (capital outflow) terus berlangsung, dan menyebabkan rupiah tertus tertekan terhadap dolar AS.
Fitch Ratings mengungkapkan pandangan mendalam mengenai rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia, yang terlihat dari indikator pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, hingga arus modal keluar yang masif.
Menurut analis pasar uang Ibrahim Assuaibi,, peringatan Fitch Ratings menunjukkan kepercayaan investor terutama asing kian melemah akibat buruknya tata kelola ekonomi, yang tercermin dari pelemahan berbagai indikator ekonomi.
Ekspor melemah di pertanian, tambang, dan manufaktur, sementara impor migas melonjak +70% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Ditambah outlook kredit RI yang sudah lebih dulu turun jadi Negatif sejak Maret 2026.
Lembaga pemeringkat global tersebut juga memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah.
“Hal ini, sekaligus memperbesar risiko terhadap penurunan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia, yang pada Maret 2026 masih dipertahankan pada level BBB dan prospek (outlook) direvisi menjadi negatif,” kata Ibrahim. (jea)


