Artikel ini merupakan adaptasi dari opini yang telah dimuat di Investor Daily.
BRIEF.ID – Di tengah perlambatan ekonomi global, meningkatnya tensi geopolitik, percepatan adopsi Artificial Intelligence (AI), serta fragmentasi lanskap media, perusahaan menghadapi tantangan yang tidak lagi semata-mata bersifat finansial atau operasional. Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan mempertahankan kepercayaan publik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dunia usaha sedang memasuki Economy of Trust, ketika reputasi dan kepercayaan menjadi aset strategis yang menentukan daya saing perusahaan. Di tengah banjir informasi, meningkatnya disinformasi, dan skeptisisme masyarakat, organisasi tidak cukup hanya menghadirkan produk atau layanan yang baik. Mereka juga dituntut membangun legitimasi, kredibilitas, dan hubungan yang berkelanjutan dengan para pemangku kepentingan.
Temuan Edelman Trust Barometer 2026 memperkuat gambaran tersebut. Sebanyak 70% responden global mengaku enggan mempercayai orang yang memiliki nilai atau sumber informasi berbeda, sementara optimisme terhadap masa depan terus menurun. Kondisi ini menunjukkan bahwa membangun kepercayaan kini menjadi tantangan strategis bagi dunia usaha.
Perubahan tersebut mendorong evolusi peran Public Relations (PR). Jika sebelumnya keberhasilan PR identik dengan eksposur media dan publisitas, kini fokusnya bergeser pada pengelolaan reputasi, mitigasi risiko, serta penciptaan nilai bagi bisnis. Di saat yang sama, menyusutnya newsroom, berkembangnya kreator independen, dan perubahan perilaku konsumsi informasi membuat perusahaan perlu mengelola komunikasi secara lebih mandiri melalui berbagai kanal digital.
AI turut mempercepat transformasi ini. Teknologi mampu mengotomatisasi analisis data, memantau sentimen publik, dan mendeteksi potensi krisis secara real-time. Namun, AI belum dapat menggantikan empati, intuisi, maupun pertimbangan etis yang menjadi fondasi komunikasi strategis.
Berbagai pembahasan di tingkat global, termasuk dalam Global Alliance for Public Relations and Communication Management, World Public Relations Forum, serta Global Risks Report 2026, semakin menegaskan bahwa komunikasi strategis merupakan bagian dari ketahanan organisasi (organizational resilience). Pengelolaan misinformasi, komunikasi yang transparan, serta pembangunan kepercayaan kini dipandang sebagai instrumen mitigasi risiko dan penciptaan nilai jangka panjang.
Karena itu, Public Relations tidak lagi dapat diposisikan hanya sebagai fungsi komunikasi. Di era Economy of Trust, PR telah berkembang menjadi kapabilitas ekonomi yang membantu organisasi memperkuat daya saing, menjaga reputasi, mengelola risiko, dan mempertahankan kepercayaan investor, pelanggan, regulator, serta masyarakat.
Diadaptasi dari artikel opini “Economy of Trust: Public Relations sebagai Kapabilitas Ekonomi di Era VUCA” yang telah dipublikasikan di Investor Daily, 14 Juli 2026 – ditulis oleh Neneng Herbawati (Praktisi Komunikasi/Founder Igico Advisory & mantan Jurnalis Ekonomi)


