Direktur Badan Intelijen Inggris Anne Keast-Butler: Barat Berisiko Kalah dari Rusia

BRIEF.ID – Direktur Badan Intelijen Komunikasi (Government Communications Headquarters/GCHQ) Inggris, Anne Keast-Butler mengatakan, Inggris dan sekutunya berada dalam “ruang antara perdamaian dan perang” karena Rusia terus meningkatkan “aktivitas hibrida hariannya” terhadap Barat, bahkan ketika korban tewas tentara Rusia di Ukraina mendekati 500.000.

Dikutip dari Euronews.com, Kamis (28/5/2026), Keast-Butler mengungkapkan bahwa  Barat berisiko kalah dalam konflik di dunia maya melawan Rusia dan musuh lainnya kecuali warga negara, perusahaan, dan pemerintah menangani keamanan siber dengan lebih mendesak.

“Saya telah menghabiskan tiga dekade bekerja di bidang keamanan nasional dan risiko salah perhitungan sangat tinggi,” kata Keast-Butler saat berpidato di pusat pemecahan kode Perang Dunia II di dekat London, Inggris.

Ia mengatakan bahwa “perusahaan teknologi merilis inovasi berbasis AI berkecepatan luar biasa, dengan konsekuensi yang tak terhitung, karena algoritma dipersenjatai seringkali tepat di bawah ambang batas peperangan tradisional.”

“AI adalah kekuatan yang tak terbendung dengan peluang besar.  Namun, ini juga merupakan kekuatan yang berisiko,” kata dia.

Ancaman dari Rusia

Keast-Butler secara khusus menyebut Rusia sebagai ancaman dan menuduh Moskow “tanpa henti menargetkan infrastruktur penting, proses demokrasi, rantai pasokan, serta kepercayaan publik” di Inggris dan Eropa, serta mencuri teknologi dan merencanakan sabotase dan upaya pembunuhan.

“Rusia meningkatkan aktivitas hibrida hariannya terhadap Inggris dan Eropa, mulai dari dasar laut hingga dunia maya,” katanya kepada audiens yang terdiri atas  ahli komputasi, diplomat, jurnalis, dan pejabat senior.

Disebutkan, salah satu area yang menjadi fokus utama kami adalah melindungi data dan energi yang mengalir melalui kabel dan pipa penting di dalam dan sekitar perairan Inggris,” tambahnya.

“Kami melakukan ini dengan mengungkap niat, motif, dan kemampuan bawah laut Rusia,” ujarnya.

Ia juga mengatakan pasukan Rusia “mengalami kemunduran di medan perang,” dengan intelijen baru menunjukkan “hampir setengah juta tentara Rusia” telah tewas sejak invasi skala penuh ke Ukraina, pada Februari 2022.

Pidato itu merupakan peringatan terbaru dari serangkaian peringatan dari para ahli intelijen Barat bahwa Rusia meningkatkan aktivitas permusuhan di “zona abu-abu” yang berada tepat di bawah ambang batas perang.

Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah  negara termasuk Swedia, Polandia, Denmark, dan Norwegia telah menuduh bahwa peretas yang terkait dengan Rusia menargetkan infrastruktur penting mereka, termasuk pembangkit listrik dan bendungan.

Kemajuan AI

Kepala Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris, Richard Horne, memperingatkan bulan lalu bahwa negara-negara yang bermusuhan termasuk Rusia, Tiongkok, dan Iran berada di balik serangan siber paling serius yang dihadapi negara tersebut. Ia mengatakan serangan semacam itu dapat meningkat secara dramatis jika Inggris terlibat dalam konflik internasional.

Keast-Butler mengatakan kemajuan pesat dalam kecerdasan buatan berarti bahwa “landasan di bawah kaki kita bergeser” dan ada “jendela yang semakin sempit bagi Inggris dan sekutunya untuk tetap unggul” dari negara-negara seperti Tiongkok, sebuah “negara adidaya” sains dan teknologi.

Ia berpendapat bahwa harus ada upaya “dari ruang rapat hingga ruang keluarga” untuk membuat keamanan siber “10 kali lebih mendesak.”

Kepala badan intelijen itmengatakan bahwa GCHQ sedang mengembangkan rencana untuk “mengintegrasikan AI canggih ke dalam pertahanan siber berkecepatan mesin.” Jika dimanfaatkan secara bertanggung jawab, katanya, AI dapat membantu mata-mata “meningkatkan algoritma, menerjemahkan bahasa asing, dan menemukan jarum di tumpukan jerami lebih cepat dari sebelumnya.”

Keast-Butler juga menekankan pentingnya kemitraan internasional karena kebijakan luar negeri “America First” Presiden AS Donald Trump dan pengabaiannya terhadap sekutu lama telah memperketat hubungan antara London dan Washington.

Ia mengatakan kemitraan intelijen Inggris-AS “sangat penting untuk keamanan kedua negara kita.”

GCHQ adalah badan intelijen elektronik dan siber Inggris. Badan ini bekerja bersama dengan dinas keamanan domestik MI5 dan badan intelijen luar negeri MI6.

Keast-Butler, perempuan pertama yang memimpin badan itu sejak tahun 2023, menyampaikan pidato kuliah tahunan direktur GCHQ di markas besar GCHQ pada masa Perang Dunia II di Bletchley Park, sebuah rumah besar yang terletak 72 kilometer barat laut London, tempat ratusan matematikawan, kriptografer, ahli teka-teki silang, master catur, dan pakar lainnya bekerja untuk memecahkan kode rahasia Nazi Jerman yang konon tak terpecahkan.

“Pekerjaan mereka mempersingkat perang dan mempercepat lahirnya komputasi modern,” kata dia. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Militer AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran

BRIEF.ID – Militer Amerika Serikat (AS)  melancarkan serangan baru...

Sertifikasi Pesawat Boeing 737 MAX 7 Segera Diterbitkan

BRIEF.ID - Kepala Federal Aviation Administration (FAA) Bryan Bedford,...

IBM Terima Modifikasi Kontrak US$ 46 Juta

BRIEF.ID – International Business Machines Corp menerima modifikasi kontrak...

Boeing Menangkan Kontrak Senilai US$ 855 Juta  

BRIEF.ID – Departemen Pertahanan Amerika Serikat memberikan modifikasi kontrak...