BRIEF.ID – Bursa saham Wall Street ditutup mayoritas melemah pada perdagangan Selasa, tertekan aksi jual besar-besaran obligasi (treasury) Pemerintah Amerika Serikat (AS). Imbal hasil (yield)obligasi tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 19 tahun, memicu tekanan terutama pada saham-saham teknologi yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Indeks S&P 500 turun 0,7% dan ditutup di level 7.694,31 poin. Sementara itu, indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average melemah 0,2% ke posisi 53.343,64 poin.
Tekanan paling dalam terjadi pada Nasdaq Composite yang merosot 1,3% menjadi 26.289,71 poin. Saham-saham teknologi menjadi sektor yang paling terdampak karena kenaikan imbal hasil obligasi meningkatkan tingkat diskonto terhadap proyeksi laba perusahaan di masa depan.
Kenaikan imbal hasil Treasury juga meningkatkan biaya pembiayaan perusahaan. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi perusahaan teknologi yang tengah menggelontorkan investasi besar untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Aksi jual obligasi terjadi meskipun data inflasi konsumen dan produsen AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan perkembangan relatif moderat. Namun, kekhawatiran terhadap potensi tekanan inflasi kembali meningkat akibat kenaikan harga minyak yang dipicu ketegangan hubungan antara Washington dan Teheran.
Kekhawatiran semakin kuat di tengah meningkatnya penerbitan obligasi oleh perusahaan-perusahaan teknologi besar untuk membiayai pembangunan infrastruktur AI. Investor mulai mencermati risiko peningkatan utang dan biaya pendanaan apabila imbal hasil obligasi terus bergerak naik.
Meski terkoreksi pada perdagangan Selasa, S&P 500 masih berada sekitar 1,3% di bawah rekor penutupan tertingginya yang dicapai pada Kamis sebelumnya. Wall Street juga mencatat penguatan signifikan sepanjang Agustus setelah pergerakan yang relatif datar pada Juni dan Juli, didukung kinerja laporan keuangan perusahaan yang solid.
“Secara keseluruhan, pasar terbukti sangat tangguh dan tetap fokus pada pertumbuhan ekonomi serta laba perusahaan. Saya tidak melihat dinamika ini akan berubah dalam beberapa bulan ke depan. Namun, jelas terdapat hambatan yang menghadang, termasuk kekhawatiran inflasi jangka panjang,” ujar Senior Vice President Wealthspire Advisors, Oliver Pursche, dikutip dari Investing.com.
Pergerakan imbal hasil Treasury, harga minyak, serta ekspektasi kebijakan suku bunga AS diperkirakan masih menjadi faktor utama yang menentukan arah Wall Street dalam perdagangan berikutnya. (nov)


