Bursa Asia Bergerak Terbatas, Kospi Melemah Jelang Pidato Warsh

BRIEF.ID – Bursa saham Asia bergerak terbatas pada perdagangan Jumat (28/8/2026), dengan investor cenderung berhati-hati menjelang pidato Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole, Wyoming, Amerika Serikat (AS). Pelaku pasar menantikan sinyal mengenai arah kebijakan suku bunga AS.

Indeks Kospi Korea Selatan menjadi salah satu bursa yang mencatat pelemahan setelah reli saham teknologi mulai kehilangan momentum. Kospi tertekan oleh penurunan saham-saham semikonduktor utama, termasuk SK Hynix dan Samsung Electronics, yang terkoreksi sekitar 1,5% hingga 2,5%.

Sebelumnya, saham teknologi Asia mendapat sentimen positif dari kinerja Nvidia yang lebih kuat dari perkiraan. Kinerja tersebut kembali memperkuat optimisme terhadap prospek permintaan terkait kecerdasan buatan (AI). Namun, setelah reli yang cukup kuat, investor mulai melakukan aksi ambil untung dan kembali memperhatikan tingginya valuasi saham teknologi.

Di Jepang, pergerakan pasar justru relatif positif. Nikkei 225 dan TOPIX masing-masing menguat sekitar 0,7% hingga 0,9%. Sementara itu, bursa Tiongkok bergerak sideways, dengan Shanghai Composite naik tipis sekitar 0,1% dan CSI 300 melemah sekitar 0,1%. Hang Seng Hong Kong juga bergerak terbatas.

Perhatian utama investor kini tertuju pada pidato Warsh di Jackson Hole. Pasar berharap mendapatkan petunjuk lebih jelas mengenai pandangan The Fed  pada inflasi dan prospek suku bunga. Meski demikian, Warsh diperkirakan tidak memberikan panduan langsung mengenai keputusan kebijakan pada pertemuan The Fed berikutnya.

Pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh kondisi pasar obligasi AS. Imbal hasil Treasury AS sebelumnya mengalami kenaikan tajam sehingga meningkatkan kehati-hatian investor terhadap aset berisiko, khususnya saham teknologi yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan suku bunga.

Sementara itu, harga minyak dunia bergerak melemah dan berada di jalur penurunan mingguan sekitar 5%. Perkembangan diplomasi terkait Iran dan Oman serta prospek normalisasi pasokan melalui Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang menekan harga minyak.

Investor Asia diperkirakan masih akan mengambil posisi hati-hati hingga pidato Warsh memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter AS. Perubahan ekspektasi suku bunga The Fed selanjutnya berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, saham teknologi, serta pasar negara berkembang termasuk Indonesia. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Go Public T.O.P dan Nana Berujung Cancel Culture, Sampai Fansite Tutup

BRIEF.ID - Pencinta K-Pop baru-baru ini dikejutkan dengan merebaknya...

Marco Bezzecchi Rajai MotoGP Mandalika 2026, Jorge Martin Rebut Puncak Klasemen

BRIEF.ID – Marco Bezzecchi (Aprilia Racing) memenangi balapan utama...

Maximo Quiles Kunci Gelar Juara Dunia Moto3 di Mandalika, Izan Guevara Rajai Moto2

BRIEF.ID – Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 menghadirkan...

Kantor Baru Diresmikan, MES Perkuat Organisasi dan Pengembangan Ekonomi Syariah

BRIEF.ID - Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) berkomitmen memperkuat infrastruktur...