BRIEF.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membeberkan jumlah titik panas di kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Papua Selatan turun 78 persen menjadi 65 titik pada Rabu (28/10), dari sebelumnya 295 titik sehari sebelumnya.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan bahwa penurunan itu terjadi seiring pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC), meski ancaman kebakaran masih membayangi wilayah tersebut.
Menurutnya, penanganan kasus karhutla difokuskan di empat kabupaten, yakni Merauke, Boven Digoel, Mappi, dan Asmat. Total luas lahan terbakar di wilayah Papua Selatan tercatat mencapai 161,5 hektare.
Untuk menekan penyebaran api, pemerintah juga telah melaksanakan 10 sorti operasi modifikasi cuaca dengan menyemaikan 10.000 kilogram garam. Upaya tersebut memicu hujan di wilayah utara dan tengah Merauke, bagian selatan Boven Digoel, serta bagian selatan Mappi.
“Saat ini bisa kami sampaikan, dari hari-hari sebelumnya turun signifikan titik api sebesar 78 persen. Tadinya titik api sebesar 295, saat ini kita dapati ada 65 titik,” tutur Berton dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (29/10).
Dia menjelaskan meski jumlah titik panas menurun, BNPB masih melanjutkan operasi modifikasi cuaca untuk mempercepat penanganan karhutla. Pasalnya, hujan belum terpantau di Kabupaten Asmat sehingga upaya pemadaman masih perlu dioptimalkan.
“Tentu upaya-upaya tetap kami laksanakan untuk memadamkan api ini, sehingga nantinya Papua Selatan ini juga bebas dari api,” kata Berton.
Berton mengemukakan bahwa hujan yang turun di sejumlah wilayah Papua Selatan turut meningkatkan jarak pandang dari sebelumnya 1–5 kilometer menjadi 7–8 kilometer. Kondisi ini, kata Berton menjadi indikasi membaiknya jarak pandang di tengah penanganan kebakaran dan dampak asap.
BNPB juga telah memperkirakan potensi pertumbuhan awan hujan meningkat, terutama di wilayah Merauke Selatan, pada akhir pekan ini. Namun, keberlanjutan hujan di wilayah terdampak menjadi faktor penting untuk mendukung pemadaman, termasuk pada titik kebakaran yang sulit dijangkau.
Di sisi lain, ancaman cuaca kering akibat fenomena El Niño masih menjadi perhatian pemerintah. BNPB menyebut kondisi tersebut meningkatkan kerawanan kebakaran lahan di Papua Selatan, terutama ketika disertai angin kering.
“Dan tentu kami juga menyampaikan, El Niño saat ini sangat kuat dan Papua Selatan sangat rawan terbakar. Serta asap lintas batas dari Papua Nugini juga datang ke Papua Selatan,” ujar Berton.
BNPB berharap operasi modifikasi cuaca dapat terus memicu hujan sehingga membantu menekan kebakaran yang masih berlangsung. Hujan dinilai penting untuk mendukung pemadaman api di permukaan maupun kebakaran yang berada di bawah permukaan tanah, termasuk di lahan gambut.
“Kita berharap hujan ini pun akan tetap terjadi. Sehingga titik api baik itu yang ada di permukaan maupun yang ada di dalam permukaan, misalnya gambut, bisa teratasi dengan baik,” tutur Berton.
Secara nasional, BNPB mencatat pemerintah masih menangani kebakaran yang mencakup total 462 hektare lahan di 10 provinsi terdampak. Sejumlah wilayah yang turut menjadi perhatian antara lain Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Maluku.
Operasi modifikasi cuaca juga dilakukan di wilayah prioritas karhutla lainnya. Pada Rabu (28/10/2026), pemerintah mengerahkan 16 sorti OMC dengan menggunakan es kering (dry ice) dan garam sebanyak total 22.600 kilogram di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan.
Menurut BNPB, operasi tersebut menghasilkan hujan berintensitas ringan hingga sedang di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Kotawaringin Barat serta Kota Banjarmasin dan Banjarbaru. Meski demikian, efektivitas penanganan karhutla tetap perlu dilihat dari perkembangan kebakaran dan luas lahan yang berhasil dipadamkan.
Penurunan titik panas di Papua Selatan menjadi perkembangan positif dalam penanganan karhutla. Namun, angka tersebut belum dengan sendirinya menunjukkan seluruh kebakaran telah terkendali, sehingga pemantauan titik panas, pemadaman di lapangan, dan pencegahan kebakaran baru tetap diperlukan. (ayb)


