JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai semakin menguatnya musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG dalam prakiraan cuaca periode 10 Agustus 2026 menyebut kondisi kering masih berlanjut dan berpotensi meluas di sejumlah wilayah Indonesia. Pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) Dasarian III Juli menunjukkan sebanyak 1.657 titik pengamatan mengalami HTH sangat panjang selama 31–60 hari.
Kondisi ini sejalan dengan dominasi curah hujan kategori rendah yang mencapai 80,77% wilayah Indonesia. Curah hujan kategori menengah mencakup 18,08% wilayah, sedangkan kategori tinggi hanya 1,15%.
BMKG juga memantau penguatan fenomena El Niño yang turut mendorong kondisi atmosfer lebih kering di sejumlah wilayah. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kebutuhan air dan risiko kebakaran pada lahan serta vegetasi yang mengering.
Agustus Puncak Kemarau
Sebelumnya, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Sebanyak 429 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,4% wilayah diperkirakan mencapai puncak kemarau pada bulan Agustus.
Namun, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau tidak berarti seluruh wilayah Indonesia akan terbebas dari hujan. Hujan masih dapat terjadi secara lokal akibat dinamika atmosfer.
Masyarakat diminta tetap memantau informasi cuaca dan peringatan dini BMKG, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah rawan kekeringan dan karhutla.
BMKG juga mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, khususnya pembakaran lahan secara terbuka.
Kondisi kemarau yang semakin kuat menjadi perhatian bagi pemerintah daerah, sektor pertanian, pengelola sumber daya air, serta masyarakat untuk memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan. (nov)


