BRIEF.ID – Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa kombinasi kebijakan moneter terbarunya bertujuan memperkuat transmisi kebijakan ke perekonomian, bukan menciptakan kebingungan di pasar.
Kebijakan itu mencakup mempertahankan suku bunga acuan, menaikkan suku bunga fasilitas simpanan, memangkas Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan, dan memperluas insentif lindung nilai valuta asing.
Menurut Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Firman Mochtar, langkah ini dirancang untuk menyelaraskan suku bunga kebijakan dengan strategi operasi moneter.
BI memperkirakan penyesuaian GWM akan menambah likuiditas perbankan sekitar Rp 90 triliun. Sementara itu, jumlah Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang beredar telah turun dari Rp1.096 triliun pada Juli menjadi di bawah Rp950 triliun.
Ekonom Bank of America (BoA) menilai bauran kebijakan tersebut tidak sepenuhnya bertentangan. Pemangkasan GWM, menurut BoA, tidak menghilangkan kemungkinan BI menaikkan suku bunga apabila diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi. (nov)


