Bamsoet Dorong Indonesia Jadi Basis Industri Kendaraan Listrik Dunia, Hilirisasi Diminta Tak Berhenti di Nikel

BRIEF.ID – Indonesia didorong tidak sekadar menjadi pemasok bahan baku, tetapi membangun basis industri kendaraan listrik dunia. Anggota DPR RI Bambang Soesatyo alias Bamsoet menilai keberhasilan hilirisasi harus diukur dari seberapa jauh Indonesia mampu menciptakan nilai tambah, teknologi, komponen, kendaraan, hingga pasar ekspor.

Pernyataan itu disampaikan Bamsoet saat menerima Pengurus Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (PERIKLINDO) yang dipimpin Ketua Umum Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Menurut Bamsoet, hilirisasi tidak boleh berhenti hanya pada pengolahan nikel, pembangunan smelter, maupun produksi bahan antara dan komponen baterai.

Dia menegaskan rantai industri harus diperpanjang hingga mencakup baterai, kendaraan listrik, komponen utama, perangkat lunak, serta kemampuan menembus pasar global.

“Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi salah satu pusat industri kendaraan listrik dunia. Kita punya sumber daya nikel, pasar domestik yang besar, tenaga kerja, basis industri otomotif, serta investasi baru yang terus masuk,” tutur Bamsoet.

Dia menilai pertumbuhan pasar kendaraan listrik menjadi modal penting untuk membangun industri tersebut. Sepanjang 2025, penjualan kendaraan elektrifikasi mencapai 175.144 unit, yang terdiri atas HEV, PHEV, dan BEV.

Khusus kendaraan listrik berbasis baterai atau BEV, penjualannya mencapai 103.931 unit pada 2025. Angka tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2024 yang tercatat 43.188 unit.

Meski pasar domestik tumbuh, Bamsoet mengingatkan besarnya penjualan belum otomatis menunjukkan bahwa Indonesia telah memiliki industri kendaraan listrik yang kuat. Menurut dia, ukuran keberhasilan harus dilihat dari nilai tambah dan kemampuan industri nasional menguasai rantai pasok.

“Ukuran keberhasilan kita jangan berhenti pada berapa banyak nikel yang berhasil diolah atau berapa banyak pabrik yang dibangun. Ukurannya harus sampai pada seberapa besar nilai tambah, teknologi, komponen, kendaraan, dan lapangan kerja berkualitas yang berhasil kita ciptakan di Indonesia,” katanya.

Bamsoet juga menyoroti kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kendaraan listrik. Berdasarkan roadmap pemerintah, batas minimal TKDN KBLBB ditetapkan 40 persen hingga 2026, kemudian naik menjadi 60 persen pada 2027-2029 dan 80 persen mulai 2030.

Menurut Bamsoet, TKDN penting untuk memastikan investasi kendaraan listrik memberikan dampak lebih besar terhadap industri dalam negeri. Namun, indikator tersebut dinilai belum cukup untuk menggambarkan kedalaman industrialisasi.

“TKDN bukan hanya satu-satunya instrumen. Kita juga harus melihat siapa yang memasok komponen, di mana teknologi dikembangkan, berapa banyak perusahaan nasional yang masuk dalam rantai pasok, berapa tenaga kerja Indonesia yang terserap, dan seberapa besar riset serta rekayasa dilakukan di dalam negeri,” ujar Bamsoet.

Dia mencontohkan mulai terbentuknya ekosistem baterai kendaraan listrik dari hulu hingga hilir. PT HLI Green Power di Karawang, perusahaan patungan Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution, disebut memiliki investasi sekitar US$1,2 miliar dengan kapasitas produksi sel baterai 10 GWh per tahun.

Di sisi lain, pemerintah juga mencatat rencana investasi sekitar US$350 juta dari Pure Battery Technologies untuk membangun fasilitas precursor bahan katoda atau pCAM di Indonesia. Fasilitas tersebut dirancang menggunakan material MHP yang dipasok dari fasilitas HPAL domestik.

Bamsoet mengatakan tantangan berikutnya adalah memastikan rantai produksi tersebut semakin panjang dan melibatkan lebih banyak perusahaan nasional. Rantai nilai yang diharapkan mencakup nikel, MHP, precursor, katoda, sel baterai, battery pack, kendaraan listrik hingga proses daur ulang.

“Inilah pekerjaan rumah kita. Jangan puas karena sudah memiliki nikel dan HPAL. Kita harus terus bergerak ke precursor, katoda, sel baterai, battery pack, kendaraan, sampai recycling. Semakin panjang rantai produksi yang berada di Indonesia, semakin besar pula nilai tambah dan kesempatan kerja yang ada di dalam negeri,” pungkas Bamsoet. (ayb)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Rusia Perpanjang Larangan Ekspor Solar, Krisis Energi Global Kembali Mengancam

BRIEF.ID - Rusia dikabarkan berencana memperpanjang larangan ekspor solar...

Indonesia Desak Negara Muslim Ambil Aksi Konkret untuk Hentikan Krisis Gaza

BRIEF.ID - Menteri Luar Negeri Sugiono mendesak delapan negara...

El Nino Ancam Air Bersih Makassar, Komisi V DPR Minta Kementerian PU dan BMKG Siapkan Mitigasi

BRIEF.ID - Makassar, Sulawesi Selatan mulai menghadapi tekanan ketersediaan...

IHSG Terpuruk ke Zona Merah, Lebih dari 500 Saham Turun Harga

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...