BRIEF.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) menyebut operasi militer di Iran belum berhenti, dan akan berlanjut dalam 2 pekan ke depan, sehingga membuat pasar keuangan global gonjang-ganjing.
Pernyataan itu, disampaikan Presiden Trump seiring penolakan AS terhadap proposal perdamaian Iran, yang disebut Trump “sama sekali tidak dapat diterima”.
Hal itu, ditujukan terhadap permintaan Iran terkait cadangan uranium yang akan diencerkan dan sisanya dipindahkan ke negara ketiga. Iran juga meminta penangguhan pengayaan uranium dilakukan dalam jangka waktu kurang dari 20 tahun seperti diajukan AS.
Trump menyampaikan, Iran telah “bermain-main” dengan AS terkait program nuklirnya selama 47 tahun, tapi sekarang “Iran tidak akan tertawa lagi” karena telah dikalahkan secara militer, kehilangan pemimpin, dan menghadapi tekanan ekonomi.
Tak hanya itu, Trump pun menegaskan tidak akan mengakhiri operasi militer di Iran termasuk di Selat Hormuz, yang kemungkinan akan dilakukan dalam 2 minggu ke depan untuk menghancurkan target, baik fasilitas nuklir maupun militer Iran.
“Tidak. Kita bisa terus maju selama dua minggu lagi dan menghancurkan setiap target. Kita mungkin telah menghancurkan 70% dari target,” kata Trump, seperti dikutip Bloomberg, Senin (11/5/2026).’
Sepanjang akhir pekan lalu, situasi di Timur Tengah makin memanas, seiring aksi saling serang yang tidak hanya melibatkan AS-Iran, tetapi juga Qatar, Uni emirat Arab (UEA), dan Kuwait.
Serangan drone Iran pada Minggu (10/5/2026), sempat membakar kapal kargo di lepas pantai Qatar, di Teluk Persia. UEA dan Kuwait menyatakan telah mencegat drone-drone.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga dikabarkan melakukan percakapan telepon dengan Presiden AS, Donald Trump, dan mengindikasikan akan “masuk Iran”, yang dinilai sebagai sinyal penyerangan ke Iran seperti pada 28 Februari 2026, termasuk perang darat.
Perkembangan terbaru konflik Timur Tengah tersebut, menimbulkan kekhawatiran terhadap ketidakpastioan distribusi minyak dan gas yang akan memicu krisis energi global, sehingga pasar keuangan global pun gonjang-ganjing.
Indeks dolar AS terhadap 6 mata uang utama dunia naik sebesar 0,14% ke level 98,03, begitu juga harga minyak dunia jenis Brent, yang melesat 3,28% menjadi US$104,6 per barel.
Di kawasan Asia, konflik Timur Tengah yang kembali memanas, membuat pasar keuangan tertekan. Mayoritas mata uang dan bursa saham Asia dibuka melemah pada Senin (11/5/2026). Won Korea Selatan turun (-0,45%), Yen Jepang (-0,15%), Dolar Singapura (-0,04%), dan Ringgit Malaysia (-0,02%).
Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 26.250, turun dibandingkan penutupan pekan lalu di posisi 26.393,71. Indeks futures Dow Jones Industrial Average juga turun 143 poin atau 0,3%, sedangkan futures S&P 500 dan Nasdaq 100 sama-sama terkoreksi 0,3%. (jea)


