BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah ambruk ke level Rp17.415 dolar Amerika Serikat (AS), seiring sinyal bakal berlanjutnya serangan AS dan Israel ke Iran.
Berdasarkan data transaksi antarbank hari ini, Senin (11/5/2026), kurs rupiah dibuka melemah tipis 0,02% menjadi Rp17.386 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.382 per dolar AS.
Di pasar spot, nilai tukar rupiah juga terkikis 0,06% ke posisi Rp17.383 per dolar AS. Seiring berjalannya perdagangan, kurs rupiah terus melemah dan terpantau berada di level Rp17.415 pada pukul 13:00 WIB.
Pelemahan rupiah terjadi seiring sinyal berlanjutnya operasi militer AS dan Israel ke Iran, setelah Presiden AS, Donald Trump, menolak proposal perdamaian Iran.
Dalam cuitan di akun media sosial Truth miliknya, Trump mengecam Iran dengan menyebut proposal perdamaian negara itu “sama sekali tidak dapat diterima”.
Kecaman itu, terutama ditujukan terhadap permintaan Iran terkait cadangan uranium yang akan diencerkan dan sisanya dipindahkan ke negara ketiga. Iran juga meminta penangguhan pengayaan uranium dilakukan dalam jangka waktu kurang dari 20 tahun seperti diajukan AS.
Trump menyatakan Iran telah “bermain-main” dengan AS terkait program nuklirnya selama 47 tahun, tapi sekarang “Iran tidak akan tertawa lagi” karena telah dikalahkan secara militer, kehilangan pemimpin, dan menghadapi tekanan ekonomi.
Tak hanya itu, Trump pun menegaskan tidak akan mengakhiri operasi militer di Iran termasuk di Selat Hormuz, yang kemungkinan akan dilakukan dalam 2 minggu ke depan untuk menghancurkan target, baik fasilitas nuklir maupun militer Iran.
“Tidak. Kita bisa terus maju selama dua minggu lagi dan menghancurkan setiap target (di Iran). Kita mungkin telah menghancurkan 70% dari target,” kata Trump, seperti dikutip Bloomberg, Senin (11/5/2026).
Pernyataan senada juga disampaikan Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu. Keduanya dikabarkan melakukan percakapan telepon tak lama setelah AS menyatakan menolak proposal perdamaian Iran.
Benjamin Netanyahu dilaporkan meninggalkan konferensi pers di Laut Mati, dan kembali ke Yerusalem untuk menerima panggilan telepon mendesak dari Presiden AS Donald Trump.
Sebelumnya, dalam rekaman wawancara dengan CBS, Netanyahu mengatakan perang “belum berakhir” dan AS harus memasuki Iran untuk mengambil atau mengamankan persediaan uranium.
Pernyataan tersebut, mengindikasikan AS dan Israel akan “masuk Iran”, yang dinilai sebagai sinyal penyerangan ke Iran seperti pada 28 Februari 2026, termasuk perang darat.
Sepanjang akhir pekan lalu, situasi di Timur Tengah makin memanas, seiring aksi saling serang yang tidak hanya melibatkan AS-Iran, tetapi juga Qatar, Uni emirat Arab (UEA), dan Kuwait.
Serangan drone Iran pada Minggu (10/5/2026), sempat membakar kapal kargo di lepas pantai Qatar, di Teluk Persia. UEA dan Kuwait menyatakan telah mencegat drone-drone.
Perkembangan terbaru konflik Timur Tengah itu, menimbulkan kekhawatiran terhadap ketidakpastioan distribusi minyak dan gas, yang dapat memicu krisis energi global, dan lonjakan inflasi.
Indeks dolar AS terhadap 6 mata uang utama dunia naik sebesar 0,14% ke level 98,03, begitu juga harga minyak dunia jenis Brent, yang melesat 3,28% menjadi US$104,6 per barel.
Hal itu, memicu pelemahan mayoritas mata uang Asia, termasuk rupiah, yang kembali terperosok ke level Rp17.400 per dolar AS. Pelemahan rupiah juga dipicu indeks keyakinan konsumen Indonesia, yang menunjukan stagflasi, meskipun pertumbuhan ekonomi meningkat.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi melanjutkan tren pelemahan, bergerak di kisaran level Rp17.350 per dolar AS hingga Rp17.450 per dolar AS. (jea)


