BRIEF.ID – Kementerian Perindustrian kini tengah mendorong penerapan teknologi baru untuk pengolahan air baku dan air limbah di kawasan industri sebagai bagian dari penguatan ekosistem industri hijau nasional.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menopang kebutuhan air industri yang terus meningkat di tengah target dekarbonisasi dan net zero emission (NZE).
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa pengelolaan air menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan kawasan industri modern. Menurutnya, sistem pengolahan air terpadu dan berbasis sirkular dibutuhkan agar pasokan air tetap terjaga sekaligus menekan dampak lingkungan dari aktivitas industri.
“Kawasan industri memiliki peran strategis dalam menarik investasi dan memperkuat transformasi industri nasional,” tuturnya di Jakarta, Rabu (13/5).
Dalam implementasinya, Kemenperin juga akan menggandeng perusahaan asal China, Qiaoyin City Management Co., Ltd., untuk mengembangkan teknologi pengolahan air baku dan air limbah di sejumlah kawasan industri di Indonesia.
Agus mengatakan kerja sama tersebut akan diarahkan untuk menghadirkan sistem yang lebih efisien, hemat biaya operasional, dan ramah lingkungan.
“Penerapan teknologi untuk pengolahan air modern tidak hanya untuk mendukung keberlanjutan industri, tetapi juga untuk meningkatkan daya saing kawasan industri nasional di mata investor global,” katanya.
Agus menjelaskan kini aspek environmental, social, and governance (ESG) kini menjadi salah satu pertimbangan utama dalam keputusan investasi.
Selain itu, menurutnya, pengembangan teknologi pengolahan air dinilai mampu mendukung pengurangan penggunaan air bersih secara berlebihan melalui pemanfaatan kembali air hasil olahan.
“Konsep ini sejalan dengan pengembangan industri hijau yang saat ini tengah dipacu pemerintah,” ujarnya.
Kemenperin pun akan menyiapkan sejumlah kawasan industri sebagai proyek untuk percontohan implementasi teknologi tersebut sebelum diterapkan lebih luas di berbagai wilayah Indonesia. (AYB)


