BRIEF.ID – Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Samuel Wattimena menekankan pentingnya menjaga identitas budaya daerah dalam produksi kain ulos, tenun tradisional khas masyarakat Batak, Sumatera Utara.
Samuel menilai pengembangan ulos tidak boleh hanya berorientasi pada aspek bisnis dan persaingan harga, tetapi juga harus mempertahankan nilai budaya yang melekat pada setiap karya tenun.
“Pendekatan dari berbagai produk ulos saat ini hanya pendekatan bisnis, seperti perang harga. Padahal, ulos ini adalah bagian dari diplomasi kebudayaan yang seharusnya memiliki identitas budaya setiap daerah penghasil ulos ini,” ujar Samuel dikutip dari laman resmi DPR.RI, Jumat (30/10/2026),.
Ia berharap setiap daerah penghasil ulos dapat memiliki karakter dan identitas budaya tersendiri yang tercermin dalam hasil karyanya, mulai dari komposisi motif, bahan, warna, hingga teknik pewarnaan.
“Kalau produsen di setiap daerah memiliki ciri yang membedakan, apakah itu terkait komposisi, warna, maupun pewarnaan, orang yang membeli di tempat A tidak bisa mendapatkan produk yang sama di tempat B karena masing-masing memiliki ciri khas berbeda. Nah, ini perlu menjadi bahan diskusi lebih lanjut,” tambahnya.

Legislator Fraksi PDI Perjuangan itu juga menyoroti semakin berkurangnya minat generasi muda untuk menjadi perajin wastra Nusantara. Istilah wastra Nusantara merujuk pada berbagai karya kain atau tekstil tradisional Indonesia yang memiliki nilai budaya, filosofi, dan kearifan lokal.
Disebutkan, salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya minat generasi muda adalah motif wastra, khususnya ulos, yang dinilai belum sepenuhnya relevan dengan karakter dan selera anak muda saat ini.
“Menurut analisa saya, mereka tidak tertarik menjadi pelaku wastra Nusantara, terutama ulos, karena motif-motifnya tidak relevan dengan para anak muda tersebut sehingga tidak ada ‘gue’-nya di situ,” pungkasnya. (nov)


