BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah terus menguat di level Rp17.900 pada perdagangan hari ini, Kamis (11/6/2026), saat konflik Timur Tengah kembali memanas. Hal itu, dinilai menjadi sinyal kebijakan moneter dan fiskal domestik direspons positif.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah dibuka menguat tipis 0,02% atau 3 poin menjadi Rp17.941 per dolar AS dari level sebelumnya Rp17.944 per dolar AS.
Sedangkan di pasar spot, nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,03% ke level Rp17.948 per dolar AS. Meski demikian, kurs rupiah perlahan berbalik melemah hingga menyentuh level Rp17.970 per dolar AS.
Hingga pukul 12:45 WIB, rupiah Jisdor terpantau melemah tipis 7 poin ke level Rp17.951 per dolar AS dibandingkan penutupan kemarin. Meski demikian, rupiah tetap bertahan di level psikologis Rp19.000 per dolar AS.
Hal ini, menandai penguatan rupiah meski ada sentimen negatif dari luar negeri, seiring konflik Timur Tengah yang kembali memanas, dan membuat harga minyak dunia melonjak.
Penguatan rupiah terus berlangsung seiring kebangkitan aset-aset Indonesia, setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin (bps) ke 5,50% pada Selasa (9/6/2026).
Disamping itu, kebijakan pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi seperti Pertamax, direspon positif karena mengurangi beban fiskal untuk subsidi energi.
Apalagi pemerintah menjanjikan pengelolaan fiskal, untuk mengendalikan inflasi akibat dampak kenaikan harga BBM. Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, meyakinkan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menahan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat tipis di kisaran Rp17.900 per dolar AS hingga Rp17.980 per dolar AS. (jea)


