IHSG Uji Level 6.000 di Tengah Aksi Profit Taking

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguji level psikologis 6.000 di tengah aksi profit taking (ambil untung) pada perdagangan hari ini, Kamis (11/6/2026).

Pada awal sesi I perdagangan saham hari ini, IHSG dibuka melemah 0,05% atau 3,11 poin ke level 5.899. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 0,14% atau 0,83 poin ke posisi 590,31.

IHSG kemudian berbalik arah ke zona hijau, namun kembali terkoreksi hingga ditutup melemah 1,91% atau 112,97 poin ke level 5.789 pada akhir sesi I perdagangan pada pukul 12:00 waktu JATS.

Selama 3 jam perdagangan berlangsung, IHSG bergerak volatile dengan cepat, bahkan sempat menyentuh level tertinggi di 6.010, dan level terendah di 5.788.

Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 500 saham turun harga, 185 saham naik harga, dan 128 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.

Adapun volume saham yang ditransaksikan mencapai 22,258 miliar lembar,d engan frekuensi transaksi sebanyak 1.530.107 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp12,676 triliun.

IHSG bergerak variatif seiring aksi profit taking, yang dilakukan investor terhadap saham-saham unggulan, yang harganya melambung dalam dua hari terakhir.

Tekanan jual terutama terjadi pada saham-saham sektor keuangan, terlebih saham 4 bank besar, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT bank Central Asia Tbk (BBCA).

Harga saham BBRI mengalami koreksi terbesar, yakni 3,47% atau Rp100 menjadi Rp2.780 per lembar, disusul BMRI yang turun 1,88% atau Rp80 menjadi Rp4.180 per lembar.

Sementara harga saham BBNI turun 1,16% atau Rp40 menjadi Rp3.410 per lembar, sedangkan BBCA stagnan di harga Rp5.650 per lembar.

Volatilitas IHSG hari ini dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah yang kembali memanas, seiring aksi Amerika Serikat (AS) dan Iran yang saling melontarkan ancaman serangan.

Presiden AS, Donald Trump, menyebut Iran sengaja menunda kesepakatan perundingan damai, sedangkan Iran menuding AS kerap melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Hal ini, membuat harapan segera dibukanya kembali Selat Hormuz semakin pupus, sehingga harga minyak dunia kembali melambung. Pada perdagangan rabu (9/6/2026), harga minyak dunia jenis Brent ditutup melonjak 1,8% ke US$ 93,1 per barel.

Meski demikian, gejolak di pasar saham dinilai mulai stabil, seiring respons positif investor terhadap kebijakan moneter dan fiskal pemerintah.

Untuk perdagangan hari ini, IHSG diprediksi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat di level support 8.750 hingga level resistance 6.050. (jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Rupiah Terus Menguat, Sinyal Kebijakan Moneter dan Fiskal Direspons Positif

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah terus menguat di...

Harga Emas Antam Terhempas dari Level Rp2.700.000 per Gram, Buyback Turun Tajam

BRIEF.ID - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang...

Astra International Berencana Buyback Saham Rp 8 Triliun

BRIEF.ID – PT Astra International Tbk (ASII) berencana membeli...

Tanggal 27-28 Juni, Pemprov DKI Gratiskan Transportasi Umum dan Tempat Wisata

BRIEF.ID – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menggratiskan transportasi...