BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (3/9/2026), seiring sinyal konflik Timur Tengah tak akan berkepanjangan.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah dibuka menguat 0,28% atau 50 poin ke level Rp17.713 per dolar AS dari level sebelumnya Rp17.763 per dolar AS.
Penguatan rupiah Jisdor terus berlanjut, bahkan menyentuh level psikologis RFp17.600. Hingga pukul 11:15 WIB, rupiah Jisdor terpantau berada di level Rp17.683, menguat 0,45% atau 80 poin dibandingkan Rp17,763 pada penutupan perdagangan Rabu (2/9/2026).
Sementara di pasar spot nilai tukar rupiah menguat 0,06% ke level Rp17.750 per dolar AS. Tak lama berselang, penguatan rupiah terus berlanjut hingga menyentuh level Rp17.698 per dolar AS.
Penguatan rupiah ditopang sentimen positif dari luar negeri, seiring pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang memberi sinyal konflik Timur Tengah tak akan berkepanjangan.
Pernyataan Trump tersebut, membuat harga minyak dunia, dan indeks dolar AS melemah. Harga minyak dunia terkoreksi 0,46% menjadi US$95,19 per barel. Sedangkan indeks dolar AS yang mengukur posisi greenback terhadap enam mata uang utama dunia melemah tipis 0,08% ke level 99,597.
Sementara sentimen positif dari dalam negeri ditopang oleh persetujuan DPR terhadap asumsi APBN 2027 yang diajukan pemerintah. Target pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi 6% dan kurs rupiah Rp17.500 per dolar AS pada Tahun 2027, disetujui DPR.
Terkait dengan itu, nilai tukar rupiah hari ini diprediksi berpeluang menguat dengan bergerak di level Rp17.650 per dolar AS hingga Rp17.750 per dolar AS. (Jea)


