BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (3/9/2026), diprediksi bergerak mendatar (sideways) setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah tipis.
IHSG pada Rabu (2/9/2026) ditutup di level 6.595,78, turun 0,06%. Secara teknikal, indeks masih menunjukkan ketahanan karena bertahan di atas moving average (MA)5. Histogram Moving Average Convergence Divergence (MACD) juga masih berada di area positif. Namun, peningkatan volume jual menjadi sinyal yang perlu dicermati investor.
Riset Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang 6.550–6.650 pada perdagangan Kamis. Level resistance berada di 6.650, pivot 6.550, sedangkan support berada di 6.500.
“Diperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 6.550-6.650. Jika breakdown dari level 6.550, diperkirakan akan uji di level 6.500,” demikian dikutip dari riset Phintraco Sekuritas.
Dalam kondisi tersebut, investor disarankan mencermati pergerakan saham-saham yang memiliki katalis positif. Phintraco Sekuritas mengunggulkan saham LSIP, SIMP, BULL, MIKA, dan DSSA.
Tekanan dari Pasar Global
Dari sisi eksternal, pasar saham domestik masih menghadapi tekanan akibat meningkatnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah di sejumlah negara besar. Kenaikan yield tersebut terjadi seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga di tengah kekhawatiran terhadap kembali meningkatnya inflasi.
Kondisi ini berpotensi mendorong investor global masuk ke mode risk-off. Dalam kondisi risk-off, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang dinilai lebih aman.
Pasar negara berkembang (emerging market) berpotensi terkena dampak dari perubahan preferensi investasi tersebut. Investor global dapat mengurangi kepemilikan aset di pasar negara berkembang dan meningkatkan investasi pada aset seperti US Treasury yang menawarkan imbal hasil relatif menarik dengan tingkat risiko yang dipersepsikan lebih rendah.
Perubahan arus modal global tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Selain itu, kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) juga dapat meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah maupun korporasi.
Bagi perusahaan, kenaikan biaya modal dapat memengaruhi keputusan investasi dan ekspansi bisnis. Karena itu, arah pergerakan suku bunga global, imbal hasil obligasi, serta nilai tukar menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan investor dalam mencermati prospek pasar saham domestik.
Prospek Ekonomi Domestik
Meski menghadapi tekanan eksternal, prospek perekonomian domestik dinilai masih dapat menjadi penyangga bagi pasar saham Indonesia. Kebijakan Bank Indonesia (BI), perkembangan harga komoditas, serta aksi korporasi emiten berpotensi memberikan katalis positif bagi IHSG.
Selain itu, arah kebijakan fiskal pemerintah juga menjadi perhatian investor. Pemerintah bersama DPR RI telah menyepakati sejumlah asumsi dasar ekonomi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Dalam RAPBN 2027, pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6%, inflasi 2,5%, nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS, serta yield SBN tenor 10 tahun sebesar 6,9%.
Dari sisi belanja, pemerintah mengarahkan kebijakan fiskal untuk mendukung investasi, pembangunan infrastruktur, hilirisasi, ketahanan pangan, energi, pendidikan, dan kesehatan.
Arah belanja tersebut berpotensi memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi dan aktivitas sektor riil. Sejumlah sektor yang terkait dengan agenda pembangunan pemerintah juga berpeluang memperoleh manfaat dari peningkatan belanja negara.
Namun, investor tetap perlu mencermati kredibilitas fiskal pemerintah, terutama kemampuan dalam mengelola defisit anggaran. Pengelolaan fiskal yang kredibel menjadi penting untuk menjaga kepercayaan investor, stabilitas pasar keuangan, serta keberlanjutan pembiayaan pembangunan.
Dengan kombinasi tekanan eksternal dan dukungan fundamental domestik tersebut, IHSG diperkirakan masih akan bergerak dalam fase konsolidasi pada perdagangan Kamis. Pergerakan di sekitar level 6.550 menjadi perhatian utama karena penembusan level tersebut dapat membuka peluang pelemahan lebih lanjut menuju area 6.500.
Sebaliknya, apabila IHSG mampu bertahan di atas level pivot 6.550 dan kembali menguat, indeks berpeluang menguji resistance 6.650. (nov)


