Rupiah Masih Melemah di Level Rp17.100 Dipicu Kekhawatiran Krisis Energi

BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah masih melemah di level psikologis Rp17.100 per dolar Amerika Serikat (AS) dipicu kekhawatiran krisis energi, terutama pasokan bahan bakar minyak (BBM).

Berdasarkan data transaksi antarbank hari ini, Selasa (14/4/2026), kurs rupiah dibuka melemah 0,15% atau 25 poin menjadi Rp17.130 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.105 per dolar AS.

Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah melemah 0,13% ke level Rp17.125 per dolar AS. Hingga pukul 11:00 WIB, pelemahan rupiah terus berlanjut dan terpantau berada di level Rp17.131 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi seiring menguatnya indeks dolar AS ke level 98,37 pada perdagangan hari ini. Meskipun harga minyak dunia terkoreksi ke level US$97,98 per barel, pergerakan dolar AS cukup stabil.

Pelemahan rupiah terjadi justru di saat mayoritas mata uang Asia melonjak, seiring sentimen positif penurunan harga minyak dunia, dan kabar terkait diterimanya mata uang Yuan Tiongkok sebagai alat pembayaran dalam transaksi minyak dunia menyaingi dolar AS.

Iran dikabarkan menerima pembayaran dalam mata uang Yuan Tiongkok, bagi negara-negara yang membeli minyak dari negara tersebut, dan juga melewati Selat Hormuz.

Melansir Bloomberg, transaksi pembayaran minyak dunia dengan menggunakan Yuan Tiongkok sempat mencetak rekor harian sebesar 1,22 triliun yuan atau sekitar US$179 miliar. Transaksi ini dilakukan melalui sistem Cross-Border Interbank Payment System (CIPS). 

Meski demikian, euforia ini belum mampu mendongkrak rupiah, yang masih melemah di level Rp17.100. Pasalnya, investor mulai meragukan kemampuan pemerintah mengatasi krisis Bahan Bakar Minyak (BBM), seiring konflik Timur Tengah, yang kembali memanas.

Presiden Prabowo Subiyanto, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dikabarkan membawa misi mengamankan pasokan minyak dalam kunjungan kenegaraan ke Rusia.

Meski demikian, kekhawatiran terhadap defisit APBN yang makin melebar, seiring harga minyak dunia yang jauh lebih tinggi dari asumsi harga minyak di APBN 2026.

Itu sebabnya, investor cenderung berhati-hati dan mencermati kebijakan fiskal pemerintah di tengah ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah, terutama manuver untuk menghindari krisis BBM.

Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi masih melanjutkan tren melemah, dam bergerak di kisaran level Rp17.100 per dolar AS hingga Rp17.150 per dolar AS. (jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

IHSG Melesat ke Level 7.600, Saham BBRI dan BRPT Ramai Doborong

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Harga Emas Antam Meroket, Investor Cairkan Cuan

BRIEF.ID - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang...

Program Executive Training Tahun 2026, Wamenhan: Ruang Pembelajaran Strategis

BRIEF.ID - Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Donny Ermawan Taufanto...

PYC Gandeng Kemhan dan RSIS Tingkatkan Kapasitas Kepemimpinan TNI

BRIEF.ID – Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) menggandeng Kementerian Pertahanan...