Rupiah Bergerak Variatif, BI Optimalkan Triple Intervensi di Pasar Valas

BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah bergerak variatif, dan tetap berada di bawah level RP18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) seiring upaya Bank Indonesia mengoptimalkan triple intervensi di pasar valuta asing (valas).

Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Rabu (29/7/2026), kurs rupiah dibuka melemah 0,09% atau 16 poin menjadi Rp18.099 per dolar AS dari level sebelumnya Rp18.083 per dolar AS.

Seiring berjalannya perdagangan, nilai tukar rupiah berbalik menguat. Hingga pukul 12:00 WIB, rupiah terpantau berada di level Rp18.078, menguat 5 poin dibandingkan level Rp18.083 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (28/7/2026).

Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah di luar negeri atau offshore justru bergerak menguat 0,1% ke Rp18.149 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Pergerakan rupiah yang volatil terjadi di saat indeks dolar AS melemah terhadap 6 mata uang utama dunia. Pada sesi pagi perdagangan hari ini, indeks dolar AS terkoreksi 0,1% ke level 101,37.

Sentimen domestik masih menekan rupiah, seiring pengunduran diri mendadak Gubernur BI, Perry Warjiyo, yang membuat investor mencermati kemungkinan adanya intervensi pemerintah terhadap independensi bank sentral.

Di tengah tekanan terhadap rupiah terhadap dolar AS, BI menegaskan komitmen menjaga stabilitas mata uang Garuda dengan mengoptimalkan triple intervensi di pasar valas.

Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengungkapkan, BI terus meningkatkan optimalisasi bauran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Kebijakan tersebut tidak hanya mengandalkan suku bunga acuan, tetapi juga diperkuat melalui berbagai instrumen moneter, antara lain melalui triple intervensi di pasar valas melalui transaksi spot, non-deliverable forward (NDF), dan domestic non-deliverable forward (DNDF). 

Selain itu, BI juga mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging guna menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendorong masuknya aliran modal asing. 

“BI terus berkomitmen menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi,” kata Erwin dalam siaran pers, Rabu (29/7/2026).

Dia menambahkan, stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi fokus utama BI, karena merupakan prasyarat utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

IHSG Ambruk ke Bawah Level 6.100, Saham Properti dan Konstruksi Jadi Pemberat

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Gempa Magnitudo 7,1 Guncang Jepang, KBRI Tokyo Pastikan Seluruh WNI Aman

BRIEF.ID – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Jepang....

Prabowo: Indonesia Diproyeksikan Jadi Ekonomi Terkuat Keempat Dunia, 25 Tahun Mendatang

BRIEF.ID - Presiden Prabowo Subianto menyatakan seluruh pakar ekonomi...

Prabowo Pimpin Pelantikan 1.204 Pamong Praja Muda XXXIII IPDN 2026 di Jatinangor

SUMEDANG, 29 Juli 2026 — Presiden Prabowo Subianto memimpin...