Rupiah Bergerak Konsolidatif, Investor Cermati Prospek Perundingan Damai AS-Iran

BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah bergerak konsolidatif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu (12/8/2026), saat investor mencermati prospek perundingan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah dibuka melemah 0,04% atau 8 poin menjadi Rp17.869 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.861 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terus berlanjut seiring jalannya perdagangan. Hingga pukul 09:45 WIB, nilai tukar rupiah Jisdor terpantau berada di level Rp17.873 per dolar AS.

Sementara itu, nilai tukar rupiah di pasar spot hari ini, juga dibuka melemah 0,07% ke level Rp17.853 per dolar AS. Pelemahan rupiah pun berlanjut hingga menyentuh level Rp17.860 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipengaruhi sikap wait and see (menunggu) investor terhadap prospek kesepakatan perdamaian AS-Iran untuk mengakhiri konflik Timur Tengah.

Meskipun Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyatakan AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan perdamaian, sikap keras Iran yang masih menutup Selat Hormuz menjadi sinyal ketidakpastian.

Apalagi pihak Iran menegaskan tidak akan membuka jalur pelayaran Selat Hormuz untuk kapal-kapal tertentu, jika AS tidak memenuhi persyaratan yang mereka ajukan. Iran dikabarkan menuntut AS menarik seluruh pasukan militer dari kawasan Timur Tengah. 

Sikap Iran tersebut Hal itu, menegaskan bahwa kesepakatan antara Iran dengan Oman untuk membuka Selat Hormuz tidak serta-merta berlaku jika AS tidak memenuhi komitmen dalam kesepakatan perdamaian.

Perkembangan terbaru itu, memicu kekhawatiran pelaku pasar terkait gangguan pasokan energi global akibat berkurangnya volume kapal yang melintas Selat Hormuz.

Akibatnya, harga minyak dunia melonjak pada perdagangan pagi ini. Adapun harga minyak dunia jenis Brent berada di kisaran US$89,63 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di levek US$83,91 per barel.

Selain faktor luar negeri, sentimen negatif juga datang dari dalam negeri, seiring tekanan jual terhadap aset Indonesia, terutama di Pasar Surat Utang, yang memicu kenaikan imbal hasil (yield).

Meski demikian, investor merespons positif pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal gubernur Bank Indonesia (BI) menggantikan Perry Warjiyo.

Hal ini, membuat tekanan terhadap rupiah diperkirakan berkurang pada perdagangan hari ini. Rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif dengan kecenderungan menguat terbatas di kisaran level Rp17.800 per dolar AS hingga Rp17.900 per dolar AS. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

IHSG Kembali Uji Level 6.300 Jelang Review Index MSCI

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Harga Emas Antam Turun Rp30.000 Dipicu Kenaikan Harga Minyak Dunia

BRIEF.ID - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang...

Harga Emas Turun, Investor Tunggu Data CPI Amerika Serikat

BRIEF.ID – Harga emas bergerak bervariasi pada perdagangan Selasa...

Penjualan Ritel Turun 3,0% pada Juni 2026

BRIEF.ID – Penjualan ritel Indonesia tercatat mengalami kontraksi 3,0%...