Risalah Rapat FOMC The Fed Pertegas Tekanan Inflasi Makin Kuat

BRIEF.ID – Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Federal Reserve (The Fed) pada 15-16 September 2026 mempertegas kekhawatiran terkait tekanan inflasi semakin kuat.

Dalam risalah FOMC yang dirilis di Amerika Serikat (AS), Rabu (7/10/2026) waktu setempat atau Kamis (8/10/2026) dinihari WIB, terungkap bahwa secara keseluruhan 19 pejabat The Fed mendukung keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan.

“Sebagian besar pejabat The Fed menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk mengantisipasi risiko tekanan inflasi yang semakin kuat,” bunyi risallah FOMC The Fed, seperti dikutip Bloomberq, Kamis (8/10/2026).

Disebutkan, para pejabat The Fed menilai suku bunga yang lebih tinggi diperlukan berdasarkan prospek ekonomi AS, yang menunjukkan kekhawatiran lebih besar terhadap tingginya inflasi.

Bahkan sebagian pejabat The Fed menilai kenaikan kembali kisaran target suku bunga federal funds kemungkinan akan tepat dilakukan sebelum akhir tahun 2026.

Terkait dengan itu, 19 pejabat The Fed dalam rapat FOMC periode September 2026, secara bulat memenaikkan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin (Bps) menjadi 3,75%-4,00%.

Kenaikan FFR tersebut merupakan yang pertama sejak Juli 2023 dan dilakukan di tengah tanda-tanda bahwa perekonomian secara keseluruhan mulai kembali menguat.

Pasar Keuangan

Risalah rapat FOMC itu juga mengungkap pembahasan mengenai kondisi pasar keuangan AS, yang diyakini mampu mendukung pertumbuhan ekonomi, seiring kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah atau US Treasury, dan tiga indeks utama di Bursa Wall Street.

Meski demikian, kenaikan suku bunga tetap dilakukan, karena bertujuan mengurangi “dosis akomodasi” kebijakan moneter ketika inflasi masih bertahan tinggi.

Pernyataan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, mengenai kemungkinan masih ada peluang kenaikan suku bunga hingga akhir tahun 2026,  mendorong pelaku pasar kembali memborong aset berdenominasi dolar AS.

Hal ini, memicu kenaikan imbal hasil US Treasury dan indeks dolar AS, sebaliknya menekan pasar keuangan, terutama mata uang negara-negara berkembang (emerging market).

Meski demikian, rilis data ekonomi AS, mendporong pelaku pasar memperkirakan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga acuan atau Fed Funds rate (FFR) dalam waktu dekat.

Hanya 25% pelaku pasar yang memperkirakan rapat FOMC periode Oktober 2026 kemungkinan menaikkan FFR. Sedangkan 70% lainnya memperkirakan rapat FOMC bulan ini tak akan menaikkan FFR. 

Pada pekan lalu, sejumlah pejabat The Fed menyampakikan bank sentral masih memiliki waktu untuk menilai kondisi perekonomian sebelum mempertimbangkan kenaikan suku bunga berikutnya. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Rupiah Hari Ini Turun Lagi ke Level Rp17.900 Jelang Rilis Indeks Keyakinan Konsumen

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika...

IHSG Jatuh ke Zona Merah Seiring Rilis Data Cadangan Devisa per September 2026

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

BI: Cadangan Devisa Turun Jadi US$146,3 Miliar per September 2026

BRIEF.ID - Bank Indonesia (BI) mengumumkan cadangan devisa Indonesia...

Rupiah Menguat Imbas Penurunan Ekspetasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah menguat terhadap dolar...