Rupiah Hari Ini Turun Lagi ke Level Rp17.900 Jelang Rilis Indeks Keyakinan Konsumen

BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada hari ini, Kamis (8/10/2026), turun lagi ke level Rp17.900 menjelang rilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).

Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah dibuka menguat 0,09% atau 16 poin menjadi Rp17.871 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.887 per dolar AS.

Seiring jalannya perdagangan, penguatan rupiah mulai terkikis, bahkan berbalik arah ke zona merah. Hingga pukul 11:50 WIB, kurs rupiah Jisdor terpantau berada di level Rp17.905 per dolar AS, melemah 0,10% atau 18 dari Rp17.887 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (7/10/2026).

Penguatan rupiah di awal perdagangan, ditopang sentimen pelemahan indeks dolar AS, seiring rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), periode September 2026, yang dirilis pada Kamis (8/10/2026) dini hari WIB.

Dalam risalah FOMC terungkap bahwa 19 pejabat The Fed secara bulat menyetujui kenaikan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis point menjadi 3,75%-4,00%.

Sebagian besar pejabat The Fed menilai kenaikan suku bunga acuan diperlukan untuk mengantisipasi risiko tekanan inflasi yang semakin kuat.

Sementara dari dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan rilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) periode September 2026, yang diumumkan Bank Indonesia (BI) hari ini.

Konsensus pasar memperkirakan IKK September 2026 mengalami peningkatan. Sebelumnya pada Agustus 2026, survei BI mencatat IKK sebesar 118,5, meningkat dibandingkan 116,8 pada Juli 2026.

Kenaikan IKK menunjukkan konsumen optimistis terhadap kondisi ekonomi, yang masih terjaga di tengah tekanan ketidakpastian global. IKK Indonesia yang masih berada di atas level 100menunjukkan konsumen masih optimistis.

Terkait dengan itu, pergerakan rupiah hari ini diperkirakan fluktuatif dengan kecenderungan menguat tipis di kisaran Rp17.850 per dolar AS hingga Rp17.950 per dolar AS.

Perkembangan konflik di Timur Tengah, dan kenaikan aset berdenominasi dolar AS, baik imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah AS atau US Treasury  maupun indeks dolar AS, tetap harus dicermati. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

IHSG Ambruk ke Bawah Level 6.100, Lebih dari 400 Saham Turun Harga

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Risalah Rapat FOMC The Fed Pertegas Tekanan Inflasi Makin Kuat

BRIEF.ID - Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC)...

IHSG Jatuh ke Zona Merah Seiring Rilis Data Cadangan Devisa per September 2026

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

BI: Cadangan Devisa Turun Jadi US$146,3 Miliar per September 2026

BRIEF.ID - Bank Indonesia (BI) mengumumkan cadangan devisa Indonesia...