BRIEF.ID – Ramalan berbasis astrologi Cina atau BaZi memproyeksikan tahun 2027 sebagai periode yang diwarnai dengan ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak mentah, pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga meningkatnya risiko bencana alam. Indonesia diperkirakan turut terdampak dinamika global tersebut, sehingga pelaku usaha dan masyarakat perlu memperkuat ketahanan ekonomi serta kemampuan beradaptasi.
Konsultan BaZi, Yorita Laksmi memaparkan proyeksi tersebut dalam materi bertajuk Situasi Global dan Indonesia 2027. Dalam paparannya, dia menyebut 2027 sebagai Year of Goat Fire atau Tahun Kambing Api, yang dikaitkan dengan energi api, keberanian, gairah, perempuan, kecantikan, dan energi.
BaZi merupakan ilmu astrologi Cina yang telah berkembang selama sekitar 2.000 tahun. Istilah BaZi berarti delapan karakter yang digunakan untuk membaca keterkaitan seseorang dengan lingkungan, keluarga, kepribadian, serta pemikiran dan potensinya.
Yorita menjelaskan BaZi tidak semata-mata digunakan hanya untuk meramalkan keberuntungan individu. Menurutnya, pendekatan tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk membaca kecenderungan kondisi dunia dan suatu negara berdasarkan interpretasi energi dalam sistem BaZi.
“Yang membedakan saya dengan konsultan BaZi lain adalah saya memanfaatkan BaZi untuk menganalisis kondisi global, kondisi suatu negara, dan juga suatu perusahaan,” tuturnya.
Untuk 2027, Yorita memperkirakan situasi geopolitik global semakin memanas. Amerika Serikat juga diproyeksikan menghadapi tekanan yang dapat memicu perubahan aliansi internasional.
Salah satu risiko yang disoroti adalah potensi kelangkaan minyak yang dapat mendorong kenaikan harga energi. Jika kondisi tersebut terjadi, biaya hidup masyarakat berpotensi meningkat, sementara daya beli tertekan akibat kenaikan harga barang dan jasa.
Yorita juga memperkirakan tekanan terhadap industri dapat meningkatkan risiko PHK. Dalam paparannya, dia mengaitkan ancaman kehilangan pekerjaan dengan ketidakmampuan sebagian industri bertahan serta penggunaan robot dan kecerdasan buatan (AI) untuk menggantikan sejumlah pekerjaan manusia.
Selain tekanan ekonomi dan ketenagakerjaan, demonstrasi terhadap pemerintah diperkirakan berlangsung lebih intens. Risiko bencana alam dan kebakaran juga masuk dalam daftar situasi yang perlu diwaspadai berdasarkan pembacaan BaZi tersebut.
“Secara garis besar, akhir tahun ini bukan periode yang bisa dianggap ringan. Ada energi yang berkaitan dengan pengambilan atau kehilangan kekayaan, sehingga kita perlu lebih waspada terhadap berbagai kemungkinan yang dapat memengaruhi kemakmuran,” katanya.
Proyeksi itu muncul setelah Yorita turut menyoroti dinamika global pada Oktober hingga Desember 2026. Dia mengaitkan Oktober dengan risiko kehilangan kemakmuran, bencana alam, perang, dan PHK. Sementara November diasosiasikan dengan perdagangan, uang, dan perpindahan manusia, sedangkan Desember disebut sebagai periode yang berpotensi menghadapi beragam krisis.
“Ketika dua kekuatan besar saling berbenturan, salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah konflik atau peperangan,” ujarnya.
Di tengah proyeksi tersebut, Yorita melihat sejumlah industri berpotensi berkembang pada 2027. Sektor yang dikaitkan dengan energi api meliputi kesehatan tubuh dan jiwa, kecantikan, perawatan antipenuaan, serta industri video, gim daring, aplikasi kencan, dan platform streaming.
Bidang kesehatan mata, jantung, dan saluran pernapasan juga masuk dalam sektor yang disorot. Di sisi lain, Yorita mengidentifikasi peluang pada industri yang berkaitan dengan energi kayu, seperti penelitian, keberlanjutan, industri kreatif, jurnalisme, penceritaan, spiritualitas, dan praktik penyembuhan holistik.
Kebutuhan kelompok lanjut usia, layanan pemakaman, serta aktivitas yang mengusung konsep kembali ke alam turut disebut sebagai bidang yang berpotensi berkembang. Meski demikian, peluang bisnis tersebut tetap perlu diuji melalui riset pasar, kebutuhan konsumen, persaingan, dan kelayakan finansial, bukan hanya berdasarkan interpretasi astrologi.
Menghadapi ketidakpastian, Yorita menyarankan masyarakat dan pelaku usaha untuk mengutamakan pemeliharaan hubungan. Dia menilai komunikasi yang terbuka, penguatan jaringan, serta perbaikan relasi yang bermasalah dapat menjadi modal penting untuk menghadapi perubahan.
Dia juga mendorong pelaku usaha untuk merawat bisnis yang sudah berjalan daripada terburu-buru membangun usaha baru. Dalam paparannya, pertumbuhan yang stabil lebih diutamakan, disertai ruang bagi kreativitas, pekerjaan yang sesuai dengan minat, dan pengembangan keunikan masing-masing individu.
Yorita menutup paparannya dengan menekankan pentingnya diplomasi, kerja sama, dan adaptasi. Dia juga menyarankan masyarakat meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan alam guna membantu meredakan tekanan.
Kendati demikian, proyeksi BaZi 2027 itu perlu dipahami sebagai pandangan berbasis astrologi, bukan kepastian mengenai peristiwa di masa depan. Untuk menilai risiko ekonomi Indonesia secara lebih terukur, masyarakat tetap perlu memperhatikan data resmi, perkembangan geopolitik, harga energi, kondisi pasar tenaga kerja, dan indikator ekonomi aktual. (ayb)


