BRIEF.ID – Polri terus meningkatkan status kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperkirakan meningkat pada puncak musim kemarau 2026.
Sebanyak lebih dari 71.000 personel Polri telah disiagakan, didukung armada udara, teknologi pemantauan titik panas, hingga patroli terpadu untuk mempercepat penanganan di lapangan.
Langkah itu menjadi salah satu agenda utama dalam Rapat Koordinasi Pencegahan dan Penanganan Karhutla yang dipimpin Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (30/7).
Rapat diikuti jajaran Mabes Polri, para kapolda secara virtual, serta sejumlah kementerian dan lembaga terkait, termasuk Kementerian Kehutanan, BNPB, BMKG, Basarnas, dan Kementerian Lingkungan Hidup.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir mengatakan kesiapan personel dan perlengkapan menjadi perhatian utama menghadapi ancaman karhutla yang dipengaruhi fenomena El Nino.
“Bapak Wakapolri menekankan bahwa seluruh jajaran harus memastikan kesiapan personel dan sarana pendukung dalam menghadapi ancaman karhutla. Upaya pencegahan harus dilakukan secara maksimal melalui patroli terpadu, sistem peringatan dini, pemantauan titik panas, serta penguatan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan,” tuturnya di Jakarta Kamis (30/7).
Dalam rapat itu diungkapkan, Polri juga melaksanakan 151 apel kesiapsiagaan, 29 rapat siaga tingkat polda, 180 kegiatan kesiapan lapangan, serta 2.850 kegiatan sosialisasi pencegahan yang melibatkan Bhabinkamtibmas dan Babinsa.
Selain itu, sebanyak 168.500 patroli darat dan perairan telah digelar bersama TNI, pemerintah daerah, Manggala Agni, dan masyarakat untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.
Dari sisi kekuatan personel, Polri juga telah menyiagakan 48.368 personel Sabhara serta 23.360 personel Korps Brimob, sehingga total lebih dari 71.000 personel siap diterjunkan apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah.
Untuk mempercepat respons, Polri juga menerapkan sistem rayonisasi antarsatuan wilayah sehingga mobilisasi personel maupun peralatan dapat dilakukan lebih cepat saat terjadi eskalasi kebakaran.
Penguatan penanganan karhutla juga dilakukan melalui pemanfaatan teknologi. Polri mengoperasikan command center di Riau, Jambi, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan yang telah terintegrasi dengan sistem milik Kementerian Kehutanan, BNPB, dan Basarnas untuk memantau titik panas secara real time.
Selain memanfaatkan kamera pengawas (CCTV), Polri juga menggunakan drone buatan dalam negeri untuk mendukung pemetaan wilayah rawan kebakaran.
Jhonny menegaskan keselamatan personel menjadi prioritas dalam setiap operasi penanggulangan karhutla.
“Arahan Bapak Wakapolri sangat jelas, yaitu memastikan setiap personel yang bertugas memiliki perlengkapan yang memadai, mulai dari baju tahan api, sepatu tahan api, penutup kepala, masker, hingga peralatan pemadaman bergerak. Keselamatan personel harus menjadi prioritas utama dalam setiap operasi penanggulangan karhutla,” katanya.
Wakapolri juga meminta seluruh jajaran melakukan pendataan ulang terhadap embung, waduk, kanal, dan sumur bor yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber air saat kebakaran terjadi. Mabes Polri telah menyiapkan dukungan anggaran melalui kapolda maupun kapolres untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Di sektor udara, Polri menyiapkan empat helikopter water bombing yang akan difokuskan pada wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam rapat, luas lahan terdampak karhutla telah mencapai sekitar 107.465 hektare. Sementara lima daerah dengan jumlah titik panas tertinggi berada di Kalimantan Barat, Riau, Papua Selatan, Aceh, dan Sulawesi Selatan.
Johnny mengatakan seluruh jajaran diminta terus memperkuat mitigasi melalui pendekatan 5M, yakni man, money, method, material, dan machine.
“Bapak Wakapolri juga menekankan kepada seluruh jajaran agar terus memperkuat langkah mitigasi secara berkelanjutan melalui prinsip 5M, yakni man, money, method, material, dan machine. Dengan kesiapan personel, sarana, serta dukungan seluruh pemangku kepentingan, kami optimistis penanganan karhutla dapat berjalan secara lebih efektif,” tutup Johnny. (ayb)


