BRIEF.ID – Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer saat ini dihadapkan pada tekanan politik dan didesak mengundurkan diri dari jabatannya. Pemimpin Partai Buruh Skotlandia, Anas Sarwar, menjadi salah satu tokoh senior yang secara terbuka meminta Starmer mundur.
Desakan itu muncul setelah skandal yang terkait dengan mantan diplomat Inggris, Peter Mandelson dan dokumen kasus Jeffrey Epstein kembali mencuat.
Namun, Starmer menolak mundur dan menegaskan tetap akan menjalankan mandat pemerintahannya. Dalam pernyataan kepada anggota Partai Buruh, Starmer mengatakan tidak akan “meninggalkan tanggung jawab” dan mengklaim selalu memenangkan setiap pertarungan politik yang dihadapinya.
Krisis ini semakin membesar setelah beberapa pejabat penting di Downing Street mengundurkan diri, termasuk kepala staf dan pejabat komunikasi pemerintah Inggris.
Desakan pengunduran diri juga disampaikan Menteri Dalam Negeri Shabana Mahmood dan sejumlah anggota kabinet senior lainnya, demikian dilaporkan Times, pada Senin (11/5/2026).
Surat kabar itu melaporkan bahwa Mahmood adalah salah satu dari setidaknya tiga menteri kabinet yang merekomendasikan agar perdana menteri perlu mengevaluasi posisinya.
Laporan itu tidak merinci mengenai alasan di balik permintaan tersebut atau jangka waktu spesifik yang disarankan oleh para menteri kabinet. (nov)


